
SIDOARJO – Terik matahari di Desa Kedondong, Kecamatan Tulangan, pada Rabu (15/04/2026), seolah menjadi saksi bisu atas sebuah potret kemiskinan yang menyayat hati. Di sebuah gang sempit, berdiri sebuah struktur bangunan yang lebih layak disebut tempat berteduh sementara daripada sebuah rumah. Di sinilah Ibu Siati, seorang lansia berusia 80 tahun, menghabiskan masa tuanya dalam kesunyian dan keterbatasan yang mendalam.
Tim Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo hadir langsung untuk melakukan asesmen Program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB). Kehadiran rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Aziz Salju Sodar (yang akrab disapa Gus Jazuk), didampingi staf pelaksana Ricky Prabu, membawa secercah harapan bagi Ibu Siati.
Ruang Sempit di Atas Tanah Keras
Kondisi hunian Ibu Siati sangat memprihatinkan. Rumah tersebut hanya berukuran sekitar $2,5 \times 3$ meter—sebuah dimensi yang bahkan terlalu sempit untuk standar ruang gerak manusia yang sehat. Sebagian dinding memang sudah berupa tembok kusam, namun sebagian besar lainnya masih berupa anyaman bambu (gedek) yang sudah lapuk dimakan usia.
Udara dingin malam dan debu siang hari dengan mudah merangsek masuk melalui celah-celah gedek tersebut. Lantainya? Hanya tanah kering yang mengeras. Tidak ada ubin, apalagi kemewahan. Lebih memilukan lagi, rumah ini sama sekali tidak memiliki fasilitas sanitasi. Tidak ada kamar mandi, tidak ada jamban. Untuk keperluan pribadi, Ibu Siati harus bersusah payah mencari solusi di luar rumah kecilnya, sebuah kondisi yang tentu sangat berat bagi seseorang yang telah memasuki usia senja.
Untuk menyambung hidup, Ibu Siati menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia mengandalkan hasil menjual pisang dari kebun kecil di sekitar rumahnya. Rupiah demi rupiah yang terkumpul hanya cukup untuk sekadar mengisi perut, jauh dari kata cukup untuk memperbaiki atap yang bocor atau membangun sebuah kamar mandi yang layak.
Komitmen Filantropi: Zakat Menguatkan
Ketua BAZNAS Sidoarjo, Gus Jazuk, terlihat sangat tersentuh saat melihat langsung kondisi Ibu Siati yang sedang menandatangani berkas administrasi di atas meja kayu yang juga nampak rapuh. Bagi BAZNAS, kasus Ibu Siati adalah prioritas utama dalam pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah dari masyarakat Sidoarjo.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Jazuk memberikan pernyataan langsung terkait komitmen lembaga:
“Melihat kondisi Ibu Siati, hati kita tentu teriris. Di tengah kemajuan Sidoarjo, masih ada orang tua kita yang tinggal di ruang $2,5 \times 3$ meter tanpa sanitasi. Ini bukan sekadar tugas administratif, tapi ini adalah panggilan iman. Melalui program RLHB, BAZNAS hadir untuk memastikan bahwa Ibu Siati bisa beribadah dan beristirahat dengan martabat yang layak. Kami ingin mengubah ‘gedek’ ini menjadi tembok yang kokoh dan memberikan beliau akses sanitasi yang sehat. Inilah bukti nyata bahwa zakat bukan hanya soal kewajiban agama, tapi instrumen kemanusiaan yang menguatkan Indonesia dari unit terkecil, yaitu keluarga dan hunian.”

Mengubah Takdir Melalui Kepedulian
Asesmen yang dilakukan hari ini merupakan langkah awal dari proses renovasi total yang akan segera dilaksanakan. BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk membangun kembali hunian Ibu Siati agar memenuhi standar rumah sehat dan layak huni.
Program RLHB ini merupakan bagian dari visi besar “Zakat Menguatkan Indonesia”. Dengan dukungan para muzaki (pembayar zakat) di Kabupaten Sidoarjo, rumah-rumah seperti milik Ibu Siati tidak lagi akan menjadi simbol kepedihan, melainkan simbol kebangkitan dan kepedulian sesama.
Harapannya, dalam waktu dekat, Ibu Siati tidak lagi perlu khawatir saat hujan turun atau kesulitan saat ingin membersihkan diri. Sebuah rumah baru yang layak akan menjadi kado terindah bagi masa tuanya, sekaligus bukti bahwa ia tidak sendirian dalam menjalani sisa usianya.
BAZNAS Kabupaten Sidoarjo
Layanan Muzaki: Mengelola Amanah, Mewujudkan Maslahat.












