
SIDOARJO – Terik matahari di Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, seolah tak mampu menembus lembapnya dinding-dinding bata yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup seorang lansia. Di sana, di sebuah hunian sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Mbah Kemisah menghabiskan hari-harinya dalam keterbatasan yang mendalam.
Kamis pagi, 16 April 2026, suasana sunyi di kediaman Mbah Kemisah mendadak hangat. Tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, yang dipimpin oleh staf pelaksana Ahmad Hamdani dan M. Sofwan, hadir membawa misi kemanusiaan. Didampingi oleh perangkat desa setempat, mereka melangkah menyusuri gang sempit demi mengantarkan amanah para muzaki melalui program Bantuan Biaya Hidup.
Potret Keteguhan di Tengah Keterbatasan
Mbah Kemisah bukan sekadar lansia biasa. Di balik rambut putihnya yang memudar, tersimpan beban hidup yang tak ringan. Beliau didiagnosis mengalami gangguan mental yang membuatnya sangat bergantung pada perlindungan orang lain. Dunianya kini terbatas pada ruang sempit dan interaksi yang minim, namun tatapan matanya tetap memancarkan kerinduan akan kepedulian.
Beruntung, Mbah Kemisah tidak sendiri. Beliau dirawat dengan penuh kasih oleh anak tunggalnya. Namun, sang anak pun harus bergelut dengan kerasnya ekonomi sebagai pekerja serabutan. Penghasilan yang tidak menentu seringkali membuat pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan dan obat-obatan, menjadi tantangan yang menghimpit setiap harinya.
“Kami melihat langsung bagaimana perjuangan keluarga ini. Mbah Kemisah membutuhkan perhatian lebih karena kondisi mental beliau, sementara sang anak harus berjuang ekstra keras dengan pekerjaan serabutan untuk sekadar bertahan hidup. Kehadiran BAZNAS di sini adalah bentuk kasih sayang masyarakat Sidoarjo yang dititipkan kepada kami,” ujar Ahmad Hamdani, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo.
Zakat yang Menguatkan, Kasih yang Mempersatukan
Penyaluran bantuan ini dilakukan secara langsung (door-to-door) untuk memastikan bahwa dukungan moral dan material sampai tepat ke tangan yang membutuhkan. Dalam kunjungan singkat sekitar sepuluh menit tersebut, tim BAZNAS tidak hanya menyerahkan bantuan biaya hidup, tetapi juga memberikan penguatan spiritual bagi sang anak agar tetap sabar merawat orang tuanya.
Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BAZNAS Sidoarjo untuk menjangkau “titik-titik buta” di pelosok desa yang luput dari perhatian. Profil Mbah Kemisah menjadi pengingat bahwa di sekitar kita, masih banyak lansia dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan uluran tangan kolektif.

Harapan Baru di Hari Kamis
Penyaluran bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga Mbah Kemisah, sehingga sang anak dapat lebih fokus memberikan perawatan yang layak bagi ibunya tanpa harus terlalu cemas memikirkan biaya hidup esok hari.
Kehadiran Mudin Desa Kepatihan dalam pendampingan ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga filantropi dan perangkat desa dalam memetakan mustahik yang paling membutuhkan bantuan mendesak.
BAZNAS Sidoarjo akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Mbah Kemisah melalui koordinasi dengan pihak desa. Langkah ini diambil agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada seremonial belaka, melainkan menjadi jembatan bagi kehidupan yang lebih bermartabat bagi para lansia rentan di Kabupaten Sidoarjo.
Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya berbagi materi, tetapi juga sedang merajut kembali harapan-harapan yang sempat pupus. Karena sejatinya, Zakat Menguatkan Indonesia, dimulai dari kepedulian kecil untuk mereka yang berada di sudut-sudut Kepatihan.
BAZNAS Kabupaten Sidoarjo
Amanah, Transparan, Profesional.












