
SIDOARJO – Senyum getir tampak menghiasi wajah renta Ibu Kusnifah (71) saat menyambut kedatangan tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo di kediamannya, Desa Boro, Kecamatan Tanggulangin, pada Rabu (15/04/2026). Di balik usianya yang sudah senja, janda pejuang ekonomi ini masih harus bergelut dengan kerasnya hidup, tinggal di sebuah bangunan yang jauh dari kata layak.
Ibu Kusnifah dikenal warga sekitar sebagai penjual nasi lento. Setiap pagi, ia mengais rezeki demi menyambung hidup. Namun, kerja kerasnya belum mampu memperbaiki gubuk tempatnya berteduh. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan: lantai masih beralaskan tanah yang lembap, atap yang sangat rendah hingga menyulitkan sirkulasi udara, serta ketiadaan fasilitas sanitasi seperti kamar mandi dan jamban yang memadai.
Melihat kondisi tersebut, Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar (Gus Jazuk), turun langsung memimpin proses assessment untuk program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB). Gus Jazuk didampingi oleh Ricky, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menyisir setiap sudut rumah yang nampak rapuh dimakan usia.
Sentuhan Kemanusiaan di Rumah Ibu Kusnifah
Dalam tinjauannya, Gus Jazuk mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam. Ia menegaskan bahwa jaminan atas hunian yang layak bagi lansia kurang mampu adalah prioritas utama dalam pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) masyarakat Sidoarjo.
“Kami merasa tersentuh melihat kondisi Ibu Kusnifah. Di usia 71 tahun, beliau masih berjuang berjualan nasi lento, namun harus beristirahat di rumah yang lantainya masih tanah dan tanpa sanitasi yang layak. Melalui program RLHB ini, BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk segera melakukan renovasi total agar beliau bisa menjalani masa tuanya dengan lebih sehat, aman, dan bermartabat,” ujar Gus Jazuk dengan penuh empati.
Gus Jazuk menambahkan bahwa kasus seperti Ibu Kusnifah adalah alasan mengapa kesadaran berzakat melalui lembaga resmi sangat penting. “Zakat bukan sekadar kewajiban agama, tapi merupakan instrumen sosial yang nyata untuk memuliakan sesama, terutama para mustahik yang terlupakan di pelosok desa,” imbuhnya.
Proses Renovasi Segera Dimulai
Ricky, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menjelaskan bahwa tim teknis akan segera menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk perbaikan menyeluruh. Fokus utama renovasi meliputi peninggian atap, pengecoran lantai, hingga pembuatan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang higienis.
“Sesuai arahan Ketua, kami akan bergerak cepat. Targetnya, Ibu Kusnifah tidak lagi harus bingung jika hujan turun atau merasa sesak karena plafon yang terlalu rendah. Sanitasi adalah poin krusial agar kesehatan beliau tetap terjaga,” terang Ricky di sela-sela pengukuran bangunan.
Kegiatan assessment ini diakhiri dengan Serah terima hasil assessment dan doa untuk keberkahan para muzakki (pembayar zakat) di Kabupaten Sidoarjo. Dengan semangat “Zakat Menguatkan Indonesia”, BAZNAS Sidoarjo terus berupaya mentransformasi mustahik menjadi lebih berdaya, dimulai dari rumah yang layak sebagai fondasi kesejahteraan keluarga.
BAZNAS Sidoarjo
Pilihan Pertama Pembayar Zakat, Lembaga Utama Menyejahterakan Umat.












