
SIDOARJO – Di balik megahnya deretan hunian di kawasan Perumahan Tropodo Indah, Waru, terselip sebuah kisah pilu yang selama tiga tahun terakhir tersembunyi di balik dinding-dinding lembap. Adalah Bapak Handoko (62), seorang sosok sepuh yang mendedikasikan sisa usianya sebagai Marbot Masjid, kini harus berjuang melawan kecemasan setiap kali mendung menggelayut di langit Sidoarjo.
Pada Kamis (16/4/2026), Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar—atau yang akrab disapa Gus Jazuk—bersama staf pelaksana Ricky Prabu, turun langsung melakukan assessment lapangan. Kehadiran mereka bertujuan meninjau kondisi rumah Bapak Handoko yang masuk dalam daftar program Rehabilitasi Rumah Layak Huni Baznas (RLHB).
Begitu memasuki halaman, pemandangan memprihatinkan langsung menyergap mata. Rumah berukuran 10×16 meter itu tampak “tenggelam”. Elevasi lantai yang jauh lebih rendah dari permukaan jalan membuat bangunan ini menjadi muara air setiap kali hujan turun. Tak hanya banjir, ancaman juga datang dari atas kepala; atap rumah tersebut telah lapuk, bocor di sana-sini, dan dalam kondisi miring yang membahayakan nyawa penghuninya.
“Selama tiga tahun terakhir, jika hujan deras turun atau cuaca buruk mengintai, saya tidak berani tidur di sini. Saya terpaksa mengungsi ke masjid,” tutur Pak Handoko dengan suara bergetar. Baginya, masjid bukan sekadar tempatnya mengabdi, tapi kini menjadi satu-satunya tempat berlindung yang aman saat rumahnya sendiri tak lagi mampu memberi kehangatan.
Melihat kondisi tersebut, Gus Jazuk tampak berkaca-kaca. Sebagai pimpinan lembaga filantropi di Sidoarjo, ia menegaskan bahwa mustahik seperti Pak Handoko adalah prioritas utama.
“Kami hadir di sini bukan sekadar melihat bangunan yang rusak, tapi melihat seorang pejuang agama yang hak-hak dasarnya untuk hidup layak belum terpenuhi. Sangat menyayat hati mengetahui seorang Marbot yang menjaga rumah Allah, justru tidak memiliki rumah yang aman untuk ia berteduh,” ujar Gus Jazuk dengan nada empatik.

Gus Jazuk menambahkan bahwa BAZNAS Sidoarjo akan segera memproses hasil assessment ini agar langkah renovasi dapat dilakukan secepat mungkin. “Zakat yang dititipkan masyarakat melalui BAZNAS adalah instrumen utama untuk menguatkan saudara-saudara kita yang kesulitan. Ini adalah mandat umat. Kita ingin Pak Handoko bisa kembali beristirahat dengan tenang tanpa perlu merasa was-was rumahnya roboh atau terendam banjir,” tegasnya.
Program RLHB ini merupakan wujud nyata dari visi “Zakat Menguatkan Indonesia”. Melalui dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk terus membedah rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi hunian yang sehat dan bermartabat.
Kepulangan tim BAZNAS sore itu diiringi tatapan penuh harap dari Pak Handoko. Di usianya yang senja, ia tak meminta kemewahan. Ia hanya merindukan sebuah atap yang tak lagi bocor dan lantai yang tak lagi tergenang, agar ia bisa terus mengabdi di masjid dengan raga yang sehat dan hati yang tenang.












