
Sidoarjo, 18 Mei 2026 – Pagi itu, mentari di Sidoarjo bersinar hangat, sehangat semangat di hati Sultan Sulaiman, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) yang sedang menimba ilmu melalui program magang di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sidoarjo. Hari ini, ia kembali terjun langsung ke lapangan, menyapa langsung para mustahik di wilayah Tulangan, mengantarkan amanah para muzakki.
“Zakat itu bukan sekadar urusan memberikan nominal, tetapi tentang menyentuh hati dan menguatkan kehidupan,” ujar Sultan Sulaiman, mahasiswa UINSA Magang Baznas Sidoarjo, dengan nada tulus, sesaat sebelum memulai perjalanannya. “Hari ini, saya belajar bahwa keberkahan zakat benar-benar terasa ketika kita bisa melihat senyum lega di wajah saudara-saudara kita yang membutuhkan.”
Agenda hari ini cukup padat. Tim BAZNAS Sidoarjo, yang terdiri dari Pak Hafidz (Staf Pelaksana) serta Sultan dan rekannya Miftah (mahasiswa UINSA magang), siap mendistribusikan bantuan biaya pengobatan dan biaya hidup di Desa Grogol dan Kebaron.
Perjalanan pertama membawa tim ke Desa Grogol. Di sana, mereka menemui Ibu Julaikah, yang tengah berjuang melawan sakit. Tim BAZNAS Sidoarjo menyerahkan bantuan biaya pengobatan, sebagai bentuk kepedulian dan ikhtiar untuk meringankan beban kesehatannya. “Terima kasih, Mas, semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak/Ibu sekalian,” ucap Ibu Julaikah dengan mata berkaca-kaca, saat menerima bantuan.
Selanjutnya, tim mengunjungi Bapak Agus Budi Setiawan di lokasi yang sama untuk menyerahkan bantuan biaya hidup. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, memberikan setitik kelegaan di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi.
“Melihat langsung perjuangan para mustahik memberikan perspektif yang sangat berarti bagi saya,” aku Sultan. “Di sela-sela rutinitas kuliah, program magang ini membuka mata saya tentang pentingnya berbagi dan manfaat nyata dari zakat.”
Perjalanan berlanjut ke kediaman Ibu Suwarsi, di mana tim kembali mendistribusikan bantuan biaya hidup. Kehadiran tim BAZNAS Sidoarjo tidak hanya membawa bantuan materil, tetapi juga semangat dan dorongan moral bagi para penerima manfaat.
Di Desa Kebaron, tim menghadapi sedikit kendala. Bapak M. Abdul Chamid, yang seharusnya menerima bantuan biaya hidup, sedang tidak berada di tempat karena sedang menjalani pengobatan di RSUD NOTOPURO. Namun, hal ini tidak menyurutkan langkah tim. Bantuan akhirnya diserahkan melalui perangkat desa setempat untuk disampaikan kepada yang bersangkutan. Langkah ini memastikan bahwa bantuan tetap tersampaikan tepat sasaran, meskipun penerima manfaat berhalangan hadir.

Terakhir, tim mengunjungi Bapak Zainal Arifin di Desa Kepuh Kemiri untuk menyerahkan bantuan biaya hidup. Bapak Zainal menyambut tim dengan hangat, senyum tulus merekah di wajahnya saat menerima bantuan. “Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami, terima kasih banyak kepada BAZNAS Sidoarjo,” ungkapnya.
Perjalanan hari ini telah usai, namun jejak kebaikan yang ditinggalkan oleh Sultan dan tim BAZNAS Sidoarjo akan terus membekas di hati para penerima manfaat. Melalui program ini, Sultan Sulaiman tidak hanya belajar tentang pengelolaan zakat, tetapi juga tentang empati, kepedulian, dan bagaimana zakat dapat menjadi instrumen yang kuat dalam menguatkan Indonesia. “Setiap rupiah zakat yang kita salurkan, membawa harapan baru dan menguatkan semangat saudara-saudara kita untuk terus berjuang,” pungkas Sultan, seraya berjanji untuk terus berkontribusi dalam menggerakkan roda kebaikan melalui zakat. Zakat Menguatkan Indonesia.












