
Aksi kemanusiaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo pada Rabu, 16 September 2026, membentang luas melintasi berbagai penjuru kecamatan. Bergerak secara sinergis, Petugas Badrus, Hamdani, dan Bayu menjelajahi wilayah di luar Bringinbendo—mulai dari Kalijaten, Kletek, Kramatjegu, Trosobo, Krian, hingga Wonocolo. Misi suci ini menyasar simpul-simpul kerentanan sosial, mulai dari janda pejuang keluarga, anak yatim piatu, hingga renovasi rumah ibadah yang membutuhkan uluran tangan segera.
Perjalanan kemanusiaan ini singgah di Desa Kalijaten, menemui Ibu Erlina Agustiningsih (53) yang harus berjuang mendampingi suami tercinta yang lumpuh akibat sakit parkinson menahun, serta merangkul Ananda Afan Khoiruddin, seorang yatim piatu pelajar kelas 11 SMA Baha’uddin yang sempat terbelit tunggakan sekolah. Di tempat terpisah, tim juga bergerak cepat merespons penderitaan Ibu Mila Yusniawati (42) di Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, yang tengah bergelut melawan kanker ganas demi kelangsungan hidupnya.
“Zakat menolong sesama di dunia, menyelamatkan kita di akhirat. Apa yang kami salurkan hari ini, baik untuk biaya hidup Ibu Lailiyah Fitriah di Wonocolo maupun bantuan sarana ibadah di Kramatjegu dan Kletek, adalah amanah agung umat yang bermuara pada pemulihan harkat hidup sesama manusia,” tegas Hamdani di sela-sela penyerahan bantuan.
Asesmen lapangan yang cermat memastikan bahwa setiap program—termasuk bantuan pengembangan ekonomi mikro, santunan biaya hidup Ibu Endah Yuli penjual gado-gado di Trosobo, hingga renovasi tempat wudhu Masjid Assakinah dan perluasan Mushollah Al Fadhil Kramatjegu—tepat sasaran. Dampak jangka panjang dari kegiatan ini sangat terasa: beban mental masyarakat yang hampir putus asa berangsur pulih, anak-anak yatim dapat kembali menatap masa depan pendidikan tanpa cemas, dan fasilitas keagamaan kembali nyaman digunakan untuk merajut kohesi sosial warga.

Kehadiran para amil zakat di tengah masyarakat memperlihatkan transformasi filantropi yang hidup. Zakat tidak hanya hadir sebagai pemadam kebakaran atas masalah ekonomi sesaat, melainkan fondasi kokoh yang menumbuhkan rasa aman, mempererat solidaritas horizontal, dan memastikan bahwa tidak ada satupun warga Sidoarjo yang merasa terasing di tengah kesusahan hidup mereka.










