
Waktu baru beranjak mendekati pukul 05.58 WITA 15 agustus lalu. Warga di Kota Maumere pun baru memulai aktivitas pagi mereka saat tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba berguncang hebat. Sontak, peristiwa gempa bumi yang berlangsung hingga beberapa menit itu membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri. Guncangan maha dahsyat ini meninggalkan duka yang mendalam serta kerugian material yang luar biasa, menguji ketahanan mental dan fisik masyarakat di bumi Flobamora tercinta.
Hingga hari ini, data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat situasi darurat yang memilukan hati. “Untuk yang meninggal dunia ada 105 jiwa, luka-luka 1.678, mengungsi 179.037 orang, rumah rusak data sementaranya 81.436,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat rapat terbatas (ratas) di Posko Penanganan Bencana Alam Kodam IX/Udayana, di Nagekeo, Rabu, 26 Agustus 2026. Data tersebut merupakan perkembangan terbaru penanganan darurat gempa NTT. Selain korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi, sebanyak 81.436 rumah dilaporkan mengalami kerusakan parah. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua wilayah dengan dampak terparah, sementara Kabupaten Nagekeo berada di urutan ketiga berdasarkan tingkat keparahan. Dari total 105 korban jiwa tersebut, sebanyak 48 orang merupakan korban yang terdampak langsung akibat gempa, sementara 57 korban lainnya meninggal dunia dalam masa penanganan pasca-bencana.
Di tengah deru pilu dan reruntuhan bangunan yang menyelimuti NTT, gelombang kemanusiaan dan filantropi mulai bersemi dari berbagai penjuru tanah air. Semangat “Zakat Menguatkan Indonesia” termanifestasikan secara nyata lewat aksi solidaritas luar biasa yang digalang oleh keluarga besar SDN Sadang, Taman, Sidoarjo Dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Parlik Puji Rahayu, S.Pd., institusi pendidikan ini menginisiasi pengumpulan donasi sukarela yang melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari peserta didik, dewan guru, tenaga kependidikan, hingga para wali murid yang antusias berpartisipasi .
Aksi penggalangan dana ini memiliki maksud mendalam, yakni menghimpun uluran tangan sukarela untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam di NTT sebagai wujud nyata solidaritas dan kepedulian sesama anak bangsa. Tujuannya sangat mulia: pertama, meringankan beban para korban yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, maupun anggota keluarga tercinta. Kedua, menanamkan nilai empati, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong kepada peserta didik sejak dini, mengajarkan bahwa kita semua saling terhubung dan wajib saling membantu dalam ikatan persaudaraan sebangsa dan setanah air .
“Semoga bantuan ini dapat meringankan beban, memberi harapan baru, serta menguatkan hati untuk bangkit kembali. Semoga Allah SWT melindungi & memulihkan daerah itu secepatnya,” tutur Parlik Puji Rahayu penuh keharuan, merefleksikan ketulusan hati seluruh warga sekolah dalam merespons musibah kemanusiaan ini.

Seluruh dana sukarela yang berhasil dihimpun, sejumlah 1,110 Juta yang dihimpun kemudian disalurkan secara transparan dan amanah melalui institusi resmi pengelola zakat. M. Sofwan, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menyambut hangat inisiatif mulia tersebut dan memberikan apresiasi yang tinggi. “Peran aktif dunia pendidikan seperti yang ditunjukkan oleh SDN Sadang membuktikan bahwa kepedulian sosial dan filantropi Islam tumbuh subur di Sidoarjo. Kolaborasi zakat, infak, dan sedekah ini tidak hanya menjadi instrumen keagamaan, tetapi juga pilar kekuatan nasional yang nyata untuk merajut kepedulian, meringankan derita para penyintas, serta menguatkan Indonesia dalam menghadapi ujian bencana di Nusa Tenggara Timur,” ujar M. Sofwan dengan penuh optimisme.
Melalui sinergi penuh empati dari para pendidik, peserta didik, lembaga amil zakat, dan seluruh masyarakat, segenap uluran tangan ini diharapkan mampu menerangi masa-masa sulit para pengungsi di NTT, menghadirkan harapan baru untuk bangkit bersama menuju pemulihan yang menyeluruh dan berkelanjutan.












