
Hari Senin, 12 Oktober 2026, mentari beranjak tinggi menyinari bumi Sidoarjo, membawa serta kehangatan yang terpancar bukan hanya dari cuaca, tetapi dari niat tulus langkah para amil pelaksana Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo. Hari ini, sebuah misi kemanusiaan kembali digulirkan. Perjalanan panjang menyusuri lorong-lorong desa, menyapa senyuman anak-anak, menguatkan dinding tempat ibadah, hingga merangkuh jemputan renta seorang ibu sepuh, menjadi bukti nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah bekerja sebagai jembatan kasih antarsesama.
Di titik pertama, langkah kaki tim amil yang dipimpin oleh Dani Prabowo, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, mengarah ke MI Cahaya Kamila di Desa Kludan, Kecamatan Tanggulangin. Suasana pagi di madrasah tersebut mendadak riuh hangat ketika kehadiran rombongan disambut sorot mata berbinar dari para siswa. Sebanyak empat siswa penerima manfaat tampak duduk dengan rapi, menyimpan harapan besar di balik seragam hijau mereka yang sederhana. Bantuan biaya pendidikan diserahkan langsung untuk memastikan langkah kecil mereka tidak terhenti, menjaga agar mimpi-mimpi besar anak-anak bangsa di pelosok desa tetap menyala terang di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Perjalanan kemanusiaan ini tidak berhenti di situ. Dani bersama Mulyono , Roda kendaraan amil kemudian melaju membelah jalanan menuju titik kedua di Desa Grabagan, Kecamatan Tulangan. Sasaran kali ini adalah SDN Grabagan, tempat di mana sebuah musholla sekolah, Musholla Darut Ta’lim, tengah menanti uluran tangan untuk direnovasi. Tempat ibadah yang menjadi pusat pembentukan karakter religius para siswa tersebut memerlukan sentuhan perbaikan agar kembali nyaman digunakan. Penyaluran bantuan biaya renovasi ini menegaskan komitmen BAZNAS Sidoarjo dalam merawat ruang-ruang spiritual di lingkungan pendidikan, tempat di mana generasi masa depan disemai akhlak dan moralnya.
Menjelang sore, pergerakan amil pelaksana BAZNAS Sidoarjo menyusuri sudut sunyi di Desa Kepunten RT 3 RW 4, Kecamatan Tulangan. Di sebuah rumah sederhana, bersemayam sebuah kisah yang mengiris sekaligus menghangatkan hati. Ibu Tasilah, seorang perempuan sepuh berusia 74 tahun yang hidup sebatang kara, menyambut kedatangan tim dengan tatapan penuh haru. Di usianya yang senja, di mana tenaga telah susut dan raga kian renta, keseharian Ibu Tasilah sangat bergantung pada belas kasih dan uluran makanan dari para tetangga sekitar. Berdasarkan hasil asesmen mendalam yang dilakukan oleh tim, beliau dinyatakan sangat layak masuk dalam kategori fakir yang membutuhkan uluran tangan segera.
Saat amplop bantuan biaya hidup diserahkan kepada Ibu Tasilah, linangan air mata tak mampu disembunyikan dari pelupuk matanya yang mulai kabur. Sentuhan kemanusiaan ini seolah menjadi pelita di tengah sunyinya hari-hari tua yang beliau jalani seorang diri.

Di sela-sela penyerahan amanah tersebut, Dani Prabowo menyampaikan pesan mendalam yang merefleksikan esensi dari kerja-kerja filantropi Islam hari ini.
“Perjalanan hari ini bukan sekadar menunaikan tugas administratif penyaluran, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk menyambung rasa dan menguatkan mereka yang dhuafa. Zakat menolong sesama di dunia, dan Insya Allah, melaluinya pula kita sedang menyelamatkan diri kita di akhirat kelak,” ujar Dani Prabowo dengan penuh penghayatan di hadapan para penerima manfaat.
Kisah perjalanan tiga titik di hari Senin ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua. Bahwa di balik setiap rupiah zakat yang ditunaikan oleh para muzaki, terdapat senyum anak sekolah yang diselamatkan, tempat ibadah yang dimuliakan, dan jiwa-jiwa sepuh yang dikuatkan. Zakat bukan sekadar angka atau kewajiban ritual semata, melainkan sebuah kekuatan transformatif yang menghadirkan keadilan sosial, merajut kepedulian, dan menebar cinta kasih tanpa batas di bumi Sidoarjo tercinta.












