
Langit Sidoarjo pada Selasa, 13 Oktober 2026, menyambut langkah hangat jajaran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo. Hari itu, sebuah misi kemanusiaan yang sarat makna dituntaskan: melakukan monitoring, mereview, serta memeriksa hasil pengerjaan program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) bagi para penyintas kebakaran yang sempat meluluhlantakkan tempat tinggal mereka beberapa bulan lalu.
Tim yang terjun langsung ke lapangan dipimpin oleh Ketua BAZNAS Sidoarjo, Chasbil Aziz Salju Sodar—yang akrab disapa Gus Jazuk—didampingi oleh staf pelaksana, Minan Abdul Chaq dan Ahmad Richie. Agenda hari itu menyasar dua titik lokasi berbeda dengan tingkat kerusakan berat akibat amukan si jago merah pada akhir Agustus 2026 lalu.
Titik pertama berlokasi di Desa Kepuhkiriman, Kecamatan Waru. Di sinilah ingatan kelam tentang Rabu dini hari, 26 Agustus 2026, pernah membakar habis rumah beserta dua unit sepeda motor milik Bapak Muslimin. Beruntung, di balik musibah dahsyat tersebut, keajaiban menyelamatkan 8 nyawa anggota keluarganya. Titik kedua menyambangi kediaman Ibu Sapekyah (70 tahun) di Desa Bluru Kidul, Kecamatan Sidoarjo, yang atap rumahnya ludes dilalap api akibat korsleting listrik pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Kini, puing-puing arang dan abu itu telah bertransformasi menjadi bangunan kokoh berdinding hijau segar. Penanganan rekonstruksi ini tidak berjalan sendiri. Ia adalah wujud nyata kolaborasi lintas sektor yang digerakkan cepat oleh Bupati Sidoarjo, Subandi, yang sebelumnya turun langsung melakukan peninjauan sidak ke lokasi. Sumber pembiayaan pembangunan kembali rumah ini bersumber dari sinergi anggaran BAZNAS dan Pemkab Sidoarjo melalui mekanisme Belanja Tidak Terduga (BTT) BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) pasca-rapat koordinasi darurat.
Saat meninjau sudut-sudut bangunan baru milik Bapak Muslimin dan Ibu Sapekyah, Gus Jazuk menyampaikan pandangannya dengan penuh kedalaman makna filantropi.
“Zakat bukan sekadar angka atau kewajiban ritual, melainkan instrumen keadilan sosial yang mengembalikan harkat kemanusiaan. Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini, di mana beban hidup terasa kian berat, kehadiran dana umat yang dikelola secara transparan dan bergotong royong dengan pemerintah daerah membuktikan bahwa tidak ada warga yang dibiarkan berjuang sendirian. Zakat menolong sesama di dunia, sekaligus menyelamatkan kita di akhirat,” ungkap Gus Jazuk di sela-sela peninjauan.

Nilai dari setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan kini menjelma menjadi social return yang tak ternilai harganya: rasa aman, senyum anak-anak, dan kembalinya ketenangan psikologis bagi keluarga yang sempat kehilangan tempat berlindung. Setiap sudut rumah yang kini berdiri tegak adalah representasi dari kepedulian kolektif masyarakat Sidoarjo.
Rangkaian monitoring hari itu ditutup dengan momen haru penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) pekerjaan kepada para penerima manfaat. Kunci rumah diserahkan, plakat penanda penghunian dipasang, dan lembaran baru kehidupan resmi dimulai kembali di atas tanah yang sama—membawa asa yang kini jauh lebih kokoh dari sebelumnya.












