BeritaHeadline

Menyapa Jiwa-Jiwa yang Terlupakan di Candi: Ketulusan Zakat Menembus Sunyi Lansia Sebatang Kara dan Warga Sakit Menahun

34
×

Menyapa Jiwa-Jiwa yang Terlupakan di Candi: Ketulusan Zakat Menembus Sunyi Lansia Sebatang Kara dan Warga Sakit Menahun

Sebarkan artikel ini

Ada kalanya kemiskinan dan usia senja datang berdampingan, membawa serta kesunyian yang amat dalam bagi mereka yang terasing dari kemajuan zaman. Pada hari Kamis, 6 Agustus 2026, antara pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, jajaran pimpinan dan staf pelaksana BAZNAS Kabupaten Sidoarjo membuktikan komitmen kemanusiaannya dengan menyusuri pelosok-pelosok desa di Kecamatan Candi. Dipimpin langsung oleh Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, Bapak Ach. Shaleh, didampingi oleh staf pelaksana Syukron In’am dan M. Sofwan, tim ini menyapa satu persatu warga prasejahtera yang hidup di ambang batas kerentanan sosial yang ekstrem.

Perjalanan penuh empati ini menyingkap tabir kehidupan yang menyayat hati di Desa Klurak. Di sana, tim BAZNAS menjumpai Ibu Sampini yang telah berusia 76 tahun. Di usia senjanya, beliau hidup sebatang kara dan hanya bisa mengandalkan uluran tangan tetangga serta desa setempat. Berdasarkan data DTSEN, Ibu Sampini berada di kategori desil 1—lapisan terbawah kemiskinan ekstrem—meskipun telah menerima bansos berupa Sembako, PKH, dan PBI-JK. Tak jauh dari sana, tim juga menyapa Bapak Muclis (65 tahun), seorang warga prasejahtera di posisi desil 3 DTSEN yang ironisnya belum pernah menikmati jenis bantuan sosial apapun dari pemerintah. Hari-hari sunyi Bapak Muclis dilalui tanpa jaring pengaman sosial, hingga akhirnya BAZNAS hadir membawa secercah cahaya harapan.

Langkah kemanusiaan berlanjut ke Desa Balongdowo, menyambangi Bapak Buarin (62 tahun) yang hidup bersama saudaranya dalam status belum menikah dan penuh keterbatasan, serta Ibu Murtinah (59 tahun) yang berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya di tengah himpitan ekonomi. Puncak dari penyaluran hari itu ditutup di Desa Balonggabus, di mana lima warga kurang mampu menerima uluran tangan. Di antara mereka terdapat Mbh. Nasikah (85 tahun) yang hidup bersama anaknya di desil 2 penerima PKH, serta Bapak Sukaji, seorang kepala keluarga yang sudah berbulan-bulan hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur akibat serangan stroke yang melumpuhkan raganya.

Jika dianalisis melalui kerangka kerja Social Return on Investment (SROI), intervensi dukungan kemanusiaan bagi masing-masing warga ini memberikan dampak sosial yang bernilai tinggi secara kualitatif. Bagi lansia sebatang kara seperti Ibu Sampini dan warga yang sakit menahun seperti Bapak Sukaji, uluran tangan ini bukan sekadar angka di atas kuitansi, melainkan obat penawar rasa cemas yang meredakan beban psikologis akut. SROI menunjukkan bahwa pencegahan keputusasaan pada kelompok rentan mampu menghentikan spiral kemiskinan multigenerasi dan merawat kohesi sosial masyarakat desa secara berkelanjutan.

Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, Bapak Ach. Shaleh, yang memimpin langsung penyaluran bantuan di lapangan, mengungkapkan rasa haru yang mendalam atas realitas sosial yang disaksikannya di Kecamatan Candi.

“Menyaksikan langsung kondisi Mbh. Nasikah di usia 85 tahun, melihat Bapak Sukaji yang terbaring kaku karena stroke, dan merasakan kesunyian hidup Ibu Sampini serta Bapak Muclis, menyadarkan kita betapa rapuhnya kehidupan manusia tanpa kepedulian sesama. Zakat yang ditunaikan oleh para muzaki bukan sekadar menggugurkan kewajiban agama, melainkan jembatan suci untuk menolong sesama di dunia dan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Kami di BAZNAS adalah pelayan umat yang memastikan amanah ini sampai kepada mereka yang paling berhak,” tutur Bapak Ach. Shaleh dengan mata berkaca-kaca.

Staf pelaksana BAZNAS, Syukron In’am, yang turut mendampingi perjalanan tersebut, menambahkan bahwa dinamika di lapangan memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kepekaan nurani di tengah masyarakat yang sibuk dengan urusan masing-masing.

“Banyak warga seperti Pak Muclis atau Pak Sukaji yang terlewat dari jaring pengaman sosial pemerintah. Di sinilah kehadiran BAZNAS menjadi penyeimbang yang krusial. Ketika kami menyerahkan bantuan ini, terlihat getaran kelegaan di tangan mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa filantropi Islam memiliki daya transformatif yang mampu menyentuh relung-relung kemanusiaan yang paling gelap sekalipun,” ujar Syukron In’am.

Rangkaian kegiatan di Kecamatan Candi pada hari Kamis itu menjadi potret agung dari semangat filantropi yang berakar pada empati. Melalui uluran tangan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, para lansia dan warga sakit menahun mendapatkan kembali hakikat kemanusiaan mereka—merasakan bahwa di dunia ini, mereka tidak pernah benar-benar sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!