
SIDOARJO – Matahari baru saja menanjak di ufuk timur ketika Ricky Prabu, staf pelaksana BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, merapikan tumpukan berkas di jok motornya. Selasa, 12 Mei 2026, bukan sekadar hari kerja biasa baginya. Ia membawa amanah ribuan muzakki yang dititipkan melalui program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB). Misinya jelas: memastikan setiap rupiah yang berubah menjadi semen dan atap, benar-benar kokoh melindungi mereka yang membutuhkan.
Perjalanan dimulai di Desa Kedondong, Tulangan. Di kediaman Ibu Siati, Ricky tak langsung menyodorkan Berita Acara Serah Terima (BAST). Dengan teliti, ia menyusuri sudut bangunan. Jemarinya meraba dinding yang kini halus terplester, matanya menyisir sambungan atap memastikan tak ada celah bagi hujan. “Kami harus memastikan kualitasnya sesuai perencanaan. Ini bukan sekadar membangun dinding, tapi membangun martabat,” gumamnya.
Dari Tulangan, Ricky memacu kendaraannya menuju Desa Pesawahan, Porong. Ibu Solati telah menunggu di depan rumahnya yang kini nampak segar. Ada haru yang membuncah saat Ricky melakukan monitoring detail. Bagi Ibu Solati, rehab ini adalah keajaiban; bagi Ricky, ini adalah tanggung jawab profesionalitas filantrophi yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
Tengah hari yang terik tak menyurutkan langkahnya menuju Balongbendo. Dua titik sekaligus menjadi sasaran: kediaman Bapak Masykur dan Bapak Suwartono di Desa Suwaluh. Di sini, Ricky bekerja lebih ekstra, membandingkan sketsa awal dengan realitas fisik. Setiap detail material dicek agar sesuai dengan standar kelayakan. Setelah dipastikan sempurna, barulah proses administrasi BAST disiapkan sebagai simbol kembalinya kedaulatan keluarga atas hunian yang sehat.
Langkah kaki sang amil berlanjut ke Desa Terungkulon, Krian. Harapan Ibu Zaidah dan Bapak Agus Rachmad sedang disempurnakan. Ricky memahami kehadirannya bukan hanya untuk urusan teknis, melainkan hadir secara emosional mendengarkan doa-doa yang terucap. Monitoring ini menjadi bukti transparansi penuh, di mana setiap sen dana zakat diawasi ketat peruntukannya.

Perjalanan panjang berakhir di Kelurahan Geluran, Taman. Di rumah Bapak Fatchul Huda, suasana sedikit berbeda. Sang pemilik sedang berjuang melawan sakit di rumah sakit. Namun, amanah tak boleh tertunda. Ricky diterima oleh adik kandung beliau. Dengan empati mendalam, ia menjelaskan setiap bagian rumah yang telah direhab, memastikan keluarga memahami bahwa bantuan ini telah tuntas dengan kualitas terbaik.
Seharian penuh, dari desa ke desa, Ricky Prabu menuntaskan tugasnya. Baginya, letih adalah cara zakat menguatkan Indonesia. Saat menutup catatan perjalanannya sore itu, ada satu kepuasan tak ternilai: melihat rumah-rumah yang dulunya rapuh, kini berdiri tegak menyongsong masa depan.
ZAKAT MENGUATKAN INDONESIA












