
SIDOARJO – Mentari belum genap merambat naik ketika tim distribusi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo mulai menyisir jalanan di wilayah selatan kabupaten. Di bawah arahan Hafidz, staf pelaksana BAZNAS, bersama dua mahasiswa magang yang penuh antusias, Miftah dan Chadiq, sebuah misi kemanusiaan dimulai pada Kamis pagi yang cerah itu. Mereka membawa amanah dari para muzakki (pembayar zakat) untuk memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak akan pernah menjadi penghalang bagi anak-anak Sidoarjo dalam mengejar cita-cita.
Langkah pertama dimulai di Kecamatan Candi, tepatnya di SDN Kalipecabean. Di sekolah ini, suasana haru sekaligus penuh syukur menyelimuti ruang pertemuan saat sepuluh siswa penerima bantuan biaya pendidikan dikumpulkan. Anak-anak ini merupakan potret perjuangan keluarga di tengah himpitan ekonomi, yang setiap hari melangkah ke sekolah dengan semangat yang melampaui kondisi finansial mereka. Bantuan yang diberikan bukan sekadar nominal uang, melainkan pesan kuat bahwa mereka tidak sendirian dalam berjuang menuntut ilmu.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju jantung Kecamatan Tanggulangin. Wilayah yang secara geografis kerap menghadapi tantangan lingkungan ini menyimpan ribuan impian anak-anak bangsa yang harus terus dijaga. Di SDN Putat, tim BAZNAS menyerahkan bantuan serupa kepada sembilan siswa. Di sini, tim menyaksikan betapa pendidikan masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga, dan kehadiran zakat hadir sebagai penyeimbang yang adil.
Tanpa kenal lelah, saat hari mulai memanas, tim bergerak menuju pesisir di kawasan Penatarsewu. Di SDN Penatarsewu, sepuluh siswa kembali tersenyum lega setelah menerima dukungan pendidikan. Kawasan ini, yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari hasil bumi dan laut, sangat memerlukan sentuhan program-program produktif seperti ini agar generasi mendatang dapat mengangkat derajat keluarga melalui pendidikan yang layak.

Titik akhir pendistribusian hari itu ditutup di SDN Sentul, Tanggulangin, di mana sepuluh siswa lainnya mendapatkan hak yang sama. Secara total, dalam satu hari perjalanan maraton tersebut, BAZNAS Sidoarjo berhasil menjangkau 39 siswa di empat lokasi berbeda. Angka ini mungkin terasa kecil dalam skala statistik, namun bagi setiap anak dan orang tua yang menerimanya, bantuan ini adalah napas baru bagi keberlanjutan masa depan pendidikan mereka.
Program distribusi biaya pendidikan ini merupakan wujud nyata dari tata kelola zakat yang akuntabel dan tepat sasaran. BAZNAS Sidoarjo memahami bahwa pendidikan adalah instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan secara struktural. Dengan memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap berada di bangku sekolah, zakat telah bertransformasi menjadi investasi sosial jangka panjang yang luar biasa.
Melalui pendampingan dari para staf profesional dan keterlibatan generasi muda seperti mahasiswa magang, program ini juga menjadi sarana edukasi bahwa filantropi Islam adalah solusi nyata bagi permasalahan bangsa. Penyaluran ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap rupiah zakat yang ditunaikan, ada harapan yang menyala di mata anak-anak pesisir, ada doa orang tua yang terkabul, dan ada masa depan Indonesia yang sedang diperkuat.
Setiap langkah yang ditempuh tim di lapangan adalah bukti bahwa gerakan “Zakat Menguatkan Indonesia” bukan sekadar slogan, melainkan sebuah aksi nyata yang bermuara pada kesejahteraan umat dan kegemilangan pendidikan anak cucu kita.
#ZakatMenguatkanIndonesia #BAZNASSidoarjo #FilantropiPendidikan










