
SIDOARJO – Terik matahari di Desa Kedondong, Kecamatan Tulangan, pada Rabu (15/04/2026), seolah menjadi saksi bisu atas sebuah potret kemiskinan yang menyayat hati. Di sebuah gang sempit, berdiri sebuah struktur yang lebih layak disebut tempat berteduh sementara daripada sebuah rumah. Di sinilah Ibu Siati, seorang lansia berusia 80 tahun, menghabiskan masa tuanya dalam kesunyian dan keterbatasan yang mendalam.
Kala itu, tim BAZNAS Sidoarjo yang dipimpin langsung oleh Ketua BAZNAS, M. Chasbil Aziz Salju Sodar (Gus Jazuk), hadir untuk melakukan asesmen. Kondisinya memilukan: dinding anyaman bambu (gedek) yang lapuk, lantai tanah, dan tanpa fasilitas sanitasi. Ibu Siati, yang sehari-hari bertahan hidup dengan menjual pisang hasil kebunnya, hanya bisa menatap pasrah pada rumah yang tak lagi mampu melindunginya dari debu dan dingin.
Namun, duka itu kini telah berganti menjadi air mata bahagia.
12 Mei 2026: Babak Baru Kehidupan
Tepat pada Selasa (12/05/2026), suasana di rumah Ibu Siati berubah total. Tidak ada lagi celah-celah gedek yang membocorkan angin malam. Kini, berdiri sebuah bangunan kokoh dengan cat hijau cerah yang segar, lengkap dengan lantai keramik yang bersih dan ventilasi yang memadai.
BAZNAS Sidoarjo kembali hadir untuk menyerahkan Berita Acara Serah Terima (BAST) sekaligus kunci rumah secara simbolis. Ibu Siati, dengan kerudung kuning khasnya, tak henti-hentinya mengucap syukur. Tangannya yang renta gemetar saat menerima replika kunci besar yang menandakan bahwa hunian tersebut kini resmi menjadi miliknya sepenuhnya dalam kondisi yang sangat layak.
Ricky Prabu, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang mendampingi proses pembangunan sejak awal, melakukan pengecekan terakhir ke seluruh sudut rumah. Mulai dari kekokohan atap hingga area sanitasi yang kini telah tersedia di dalam rumah.

“Program RLHB ini bukan sekadar membangun fisik bangunan, tapi membangun kembali martabat mustahik kami. Untuk kasus Ibu Siati, kami memastikan setiap jengkal ruangannya aman untuk lansia, terutama akses sanitasi yang sebelumnya tidak ada sama sekali,” ujar Ricky Prabu saat meninjau lokasi.
Ia menambahkan bahwa kecepatan dan ketepatan pembangunan ini adalah hasil dari amanah para pembayar zakat. “Melihat Ibu Siati tidak lagi harus keluar rumah di malam hari hanya untuk urusan sanitasi adalah kebahagiaan terbesar kami. Ini adalah bukti nyata bahwa Zakat Menguatkan Indonesia, dimulai dari memberikan ketenangan hidup bagi lansia seperti beliau,” tegas Ricky.
Kini, Ibu Siati tidak lagi harus khawatir saat hujan turun atau angin kencang berhembus. Di usia senjanya, ia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang di rumah yang layak, sebuah kado indah dari semangat filantropi masyarakat Sidoarjo melalui BAZNAS. Senyumnya yang merekah di depan pintu rumah barunya menjadi pengingat bahwa zakat, jika dikelola dengan hati, mampu mengubah air mata menjadi harapan.










