BeritaHeadline

Jejak Ikhlas di Sidoarjo: Kala Amil Menjemput Senyum di Pelosok Sidoarjo

22
×

Jejak Ikhlas di Sidoarjo: Kala Amil Menjemput Senyum di Pelosok Sidoarjo

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Matahari Selasa, 12 Mei 2026, tepat berada di puncaknya. Namun, bagi Kolid Musadad, Minan Abdul Haq, dan Sofwan, terik itu hanyalah bumbu dalam perjalanan misi kemanusiaan mereka. Ketiga staf pelaksana BAZNAS Kabupaten Sidoarjo ini bukan sekadar mengantar bantuan; mereka sedang merajut kembali harapan-harapan yang sempat terkoyak oleh keterbatasan ekonomi.

Mulai pukul 10.00 hingga 13.00 WIB, ketiga amil ini bergerak lincah menyusuri sudut-sudut Kabupaten Sidoarjo, mulai dari Candi, Gedangan, hingga Sedati. Fokus mereka jelas: memastikan amanah para muzakki sampai ke tangan yang paling berhak dengan cara yang paling bermartabat.

Pendidikan: Menjaga Nyala Pelita di Sekolah

Perjalanan diawali dengan menyambangi sekolah-sekolah di Kecamatan Candi dan Gedangan. Di MINU Tenggulunan, SDN 1 Candi, hingga SDN Gemurung, pemandangan haru tersaji. Puluhan siswa-siswi menyambut kehadiran tim BAZNAS dengan binar mata yang sulit dilukiskan kata-kata.

Bagi Kolid dan rekan-rekan, membagikan bantuan biaya pendidikan bukan sekadar urusan administratif. Saat menyerahkan map berlogo BAZNAS kepada para guru dan wali murid, ada pesan kuat yang disampaikan: “Anak-anak ini tidak boleh putus sekolah.” Bantuan ini adalah jembatan bagi mereka untuk tetap bisa menggenggam mimpi di tengah impitan biaya hidup yang kian mencekik. Kehadiran amil di tengah-tengah siswa ini menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat Sidoarjo hadir nyata di ruang-ruang kelas mereka.

Mendengar Kembali Dunia: Kado untuk Bapak Samak dan Bapak Kojin

Misi berpindah ke arah pesisir, tepatnya di Kecamatan Sedati. Kali ini, tugas tim terasa lebih emosional. Mereka mengunjungi kediaman Bapak Samak dan Bapak Kojin di Desa Sedati Gede. Selama ini, dunia terasa sunyi bagi kedua lansia tersebut karena gangguan pendengaran yang mereka alami.

Dengan penuh ketelatenan, Kolid Musadad membantu memasangkan alat bantu dengar ke telinga mereka. Tak butuh waktu lama, senyum tipis mulai mengembang di wajah Bapak Samak. Reaksi spontan saat beliau kembali bisa menangkap suara di sekitarnya menjadi upah tak ternilai bagi para amil yang bertugas. Di titik ini, filantropi bukan lagi soal angka, melainkan soal mengembalikan fungsi hidup dan kemandirian seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang terkasih.

Musholla Darussalam: Membangun Spiritual Warga

Tak berhenti di individu, jejak kemaslahatan BAZNAS juga menyentuh fasilitas publik. Di Desa Cemandi, tim melakukan asesmen dan penyaluran bantuan partisipasi pembangunan Musholla Darussalam. Di bawah naungan atap musholla yang masih dalam tahap perbaikan, tim berdiskusi dengan pengurus setempat.

Bagi BAZNAS Sidoarjo, mendukung sarana ibadah adalah investasi jangka panjang untuk penguatan karakter dan spiritualitas warga desa. Dengan terbangunnya tempat ibadah yang layak, diharapkan denyut kehidupan beragama dan gotong royong di Desa Cemandi semakin kuat.

Amil: Sang Jembatan Kebaikan

Hari ini ini mencatat bahwa dedikasi amil di lapangan adalah ruh dari gerakan zakat. Kolid, Minan, dan Sofwan adalah representasi dari ribuan pejuang filantropi yang bekerja dalam sunyi, memastikan bahwa setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah bertransformasi menjadi solusi nyata.

Lelah yang merayap di bawah terik Sidoarjo hari itu seolah menguap saat melihat bantuan telah diterima. Seiring waktu menunjukkan pukul 13.00, tugas lapangan berakhir, namun semangat untuk terus melayani tak pernah padam. Karena di setiap langkah mereka, ada doa-doa yang terijabah dan ada Indonesia yang semakin kuat melalui zakat.

Zakat Menguatkan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!