
SIDOARJO – Di balik riuh rendah suara kendaraan yang membelah Kecamatan Waru, tersimpan sebuah perjuangan sunyi dari sebuah keluarga kecil di Desa Kedungrejo. Seorang balita berusia dua tahun, sebut saja namanya Achmad, kini tengah berpacu dengan waktu untuk mendapatkan kembali hak paling mendasar dalam tumbuh kembangnya: kemampuan untuk melihat indahnya dunia.
Achmad didiagnosis menderita katarak kongenital, sebuah kondisi medis yang merampas cahaya dari kedua matanya sejak dini. Meski usianya baru menginjak dua tahun, balita tangguh ini sudah harus melewati meja operasi sebanyak tiga kali. Namun, perjuangan itu belum usai. Untuk mencapai hasil yang maksimal agar penglihatannya benar-benar pulih, Achmad masih membutuhkan satu kali operasi pemungkas serta perawatan intensif yang memerlukan biaya tidak sedikit.
Merespons kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo hadir melakukan intervensi sosial melalui pendistribusian bantuan biaya pengobatan. Langkah ini merupakan wujud nyata dari semangat “Zakat Menguatkan Indonesia,” di mana dana zakat, infak, dan sedekah dari para muzaki dikonversi menjadi harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam aspek kesehatan anak.
Pada Kamis siang (07/05/2026), tim pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang terdiri dari Minan Abdul Haq, Hamdani, dan Syukron In’ami, bergerak menuju Balai Desa Kedungrejo. Kedatangan mereka bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan membawa amanah dari para donatur untuk meringankan beban orang tua Achmad yang sehari-hari bekerja keras mencari nafkah sebagai pengemudi ojek daring.
Kondisi ekonomi keluarga yang terdampak akibat biaya pengobatan yang tidak seluruhnya tercover oleh jaminan kesehatan (BPJS) menjadi perhatian utama. Beberapa jenis obat-obatan khusus harus dibeli secara mandiri, sebuah beban yang cukup berat bagi pekerja sektor informal dengan penghasilan harian yang tak menentu.
Minan Abdul Haq, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin langsung asesmen di lapangan, menyampaikan rasa empatinya saat menyerahkan bantuan secara tunai kepada keluarga penerima manfaat. Menurutnya, intervensi ini adalah bagian dari komitmen BAZNAS dalam memastikan tumbuh kembang anak-anak di Sidoarjo tidak terhambat oleh kendala ekonomi.
“Kami melihat semangat luar biasa dari orang tua ananda Achmad. Meskipun berprofesi sebagai ojek online dengan penghasilan yang tidak menentu, mereka tidak menyerah memperjuangkan kesembuhan putranya. BAZNAS hadir di sini untuk memastikan bahwa perjuangan tersebut tidak sendirian,” ujar Minan penuh harap.

Ia menambahkan bahwa bantuan ini difokuskan untuk memfasilitasi kebutuhan medis yang mendesak. “Kami menyalurkan bantuan pengobatan ini agar operasi terakhir ananda dapat segera terlaksana tanpa terhalang biaya obat-obatan yang tidak tercover jaminan kesehatan. Semoga setelah ini, Achmad bisa melihat dunia dengan jelas dan tumbuh menjadi anak yang sehat serta berbakti.”
Suasana haru menyelimuti momen penyerahan bantuan di Balai Desa Kedungrejo. Orang tua Achmad tak henti-hentinya mengucap syukur atas bantuan yang mereka terima. Bagi mereka, bantuan ini adalah jembatan untuk membawa Achmad menuju ruang operasi terakhir yang akan menentukan masa depannya.
Melalui program-program intervensi sosial seperti ini, BAZNAS Sidoarjo terus membuktikan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan instrumen vital dalam pengentasan kemiskinan dan penanganan isu-isu kesehatan mendesak. Dengan semangat gotong royong, BAZNAS Sidoarjo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus konsisten berzakat, agar lebih banyak “Achmad-Achmad” lain yang bisa terselamatkan masa depannya.
Zakat bukan hanya membersihkan harta, tapi juga menyalakan cahaya bagi mereka yang sempat kehilangan harapan. Bersama BAZNAS Sidoarjo, kita kuatkan Indonesia melalui kepedulian yang nyata.












