
Di balik hingar bingar modernitas Kabupaten Sidoarjo, terhampar sudut-sudut sunyi yang menyimpan cerita pergulatan hidup yang mengiris nurani. Kamis, 30 Juli 2026, langkah kaki tim Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo menyusuri gang-gang sempit di Dusun Nyamplung, Desa Sumokali, Kecamatan Candi. Di sanalah bersemayam sebuah realitas kemanusiaan yang menuntut kepedulian kolektif: sebuah rumah sederhana milik Bapak Junaidi, seorang pejuang nafkah lansia yang menggantungkan hidupnya pada roda tua sebuah becak.
Setiap butir keringat yang diseka Bapak Junaidi di jalanan panas Sidoarjo adalah manifestasi perjuangan halal demi menyambung nyawa keluarga yang bernaung di bawah satu atap bersama anak dan menantunya. Namun, rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan paling aman justru menyimpan ancaman laten. Atap rumahnya telah lapuk dimakan usia, dengan kerangka kayu penyangga yang keropos dan sewaktu-waktu dapat runtuh. Penderitaan kian berlapis tatkala musim hujan tiba; struktur lantai yang lebih rendah dari jalanan sekitar menjadikan hunian ini langganan genangan air bah yang merendam ruang hidup mereka.
Kondisi memprihatinkan ini merefleksikan bagaimana kemiskinan ekstrem kerap mencaplok rasa aman dan martabat dasar manusia. Dalam kerangka pembangunan sosial yang berkelanjutan, intervensi filantropi tidak boleh dilihat sekadar sebagai bantuan karikatif sesaat, melainkan sebagai investasi sosial jangka panjang yang menghasilkan Social Return on Investment (SROI) bernilai tinggi. Setiap rupiah dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat tidak hanya merenovasi fisik bangunan agar layak huni, tetapi secara simultan memulihkan kesehatan mental keluarga, memutus rantai kerentanan penyakit akibat lingkungan lembap, serta mengembalikan harkat martabat kaum dhuafa agar dapat kembali menatap masa depan dengan optimisme.
Kehadiran tim asesmen yang dipimpin oleh Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, M. Naim, M.Pd.I, bersama staf pelaksana Achmad Richie Prabu dan tenaga ahli teknis Nasirin, S.T., menjadi jembatan empati yang menghubungkan uluran tangan para dermawan dengan jeritan sunyi di akar rumput. Dalam peninjauan tersebut, M. Naim menegaskan pentingnya kehadiran institusi amil zakat sebagai manifestasi solidaritas umat yang berdampak nyata bagi transformasi kehidupan masyarakat marjinal.

“Zakat bukan sekadar kewajiban ritual ibadah harta, melainkan instrumen Ilahiah yang memiliki dimensi sosial yang sangat luas. Menolong sesama manusia yang berada dalam kesusahan di dunia melalui program nyata seperti Rumah Layak Huni ini adalah jalan kebaikan untuk meringankan beban mereka hari ini, sekaligus menjadi investasi keimanan yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Apa yang kita ulurkan hari ini di Sidoarjo adalah ikhtiar bersama untuk mengembalikan senyum dan rasa aman bagi saudara-saudara kita yang dhuafa,” ujar M. Naim, M.Pd.I di sela-sela asesmen lapangan.
Refleksi mendalam tersebut menegaskan bahwa esensi zakat melampaui batas-batas material. Ketika dana umat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran, dampaknya meluas jauh melampaui perbaikan fisik rumah. SROI dari program Rumah Layak Huni BAZNAS Sidoarjo tercermin pada terciptanya stabilitas psikologis keluarga, perlindungan anak dan lansia dari risiko kesehatan, serta tumbuhnya kembali rasa percaya diri warga untuk berdaya secara mandiri. Rumah yang kokoh dan sehat adalah fondasi awal bagi lahirnya generasi yang lebih produktif dan bermartabat.
Melalui kerja kemanusiaan yang berakar pada empati dan profesionalisme ini, BAZNAS Sidoarjo terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat gerakan zakat. Setiap kebaikan yang ditanam di bumi Sidoarjo melalui zakat, infak, dan sedekah tidak pernah sia-sia; ia menjelma menjadi pelita yang menerangi jalan kesusahan sesama di dunia, sekaligus menjadi syafaat dan penyelamat di kehidupan kelak di akhirat.
Zakat: Menolong Sesama di Dunia, Menyelamatkan Kita di Akhirat












