
SIDOARJO – Di balik gemuruh pembangunan dan dinamika ekonomi Kabupaten Sidoarjo, masih terdapat denyut kehidupan yang membutuhkan uluran tangan untuk tetap bertahan. Pada Rabu, 15 Juli 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo kembali hadir menyapa warga yang membutuhkan melalui program distribusi bantuan biaya hidup. Kehadiran ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa zakat yang dititipkan umat benar-benar mampu menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat yang paling rentan.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.30 ini melibatkan staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, Minan Abdul Haq dan Sofwan, yang turun langsung ke lapangan didampingi perangkat desa setempat. Fokus utama aksi ini menyasar mereka yang sedang berada dalam titik nadir kehidupan, baik karena musibah, keterbatasan fisik, maupun kondisi ekonomi yang memprihatinkan.
Di Desa Keboansikep, Kecamatan Gedangan, tim menjumpai Bapak Suwandi (64). Perjuangannya menantang nasib patut diapresiasi. Meski mengalami musibah kehilangan salah satu tangannya akibat kecelakaan, semangatnya untuk mandiri tidak padam. Ia bertahan hidup seorang diri dengan mengandalkan keahliannya sebagai tukang servis elektronik. Bantuan yang disalurkan BAZNAS menjadi suntikan semangat agar Bapak Suwandi tetap mampu menyambung napas kehidupan di tengah keterbatasan fisik yang ia alami.
Tak jauh berbeda, di Desa Pranti, Kecamatan Sedati, tim menyambangi kediaman Bapak Zaini (65). Di usia senjanya, kesehatan Bapak Zaini menurun drastis, sementara sang istri harus berjuang menjadi buruh cuci demi memenuhi kebutuhan harian. Kehadiran BAZNAS di rumah tersebut menjadi penanda bahwa mereka tidak berjuang sendirian di tengah badai kesulitan.
Sementara itu, di Desa Bangah, Kecamatan Gedangan, fokus bantuan diarahkan kepada ananda Syafa Quiin Azkafins. Sebagai seorang yatim piatu, masa depan Syafa adalah investasi sosial yang harus dijaga. Bantuan diterima langsung oleh sang bude, mengingat Syafa saat itu sedang berada di sekolah. Langkah ini merupakan bentuk kepedulian BAZNAS agar anak-anak yatim tetap mendapatkan akses untuk melanjutkan pendidikan meski kehilangan sosok orang tua.
Minan Abdul Haq, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menegaskan bahwa kehadiran lembaganya di lapangan merupakan manifestasi dari misi besar zakat sebagai instrumen perubahan sosial.
“Kegiatan hari ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa zakat bukan sekadar angka atau ritual ibadah semata, tetapi memiliki dampak sosial yang luas (SROI). Ketika kita membantu Bapak Suwandi yang gigih, Bapak Zaini yang sedang sakit, atau memastikan pendidikan Syafa tetap berjalan, kita sedang membangun ketahanan sosial. Zakat adalah penguat agar mereka tidak jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan. Kami hadir bukan hanya memberikan bantuan, tapi membawa harapan agar mereka bisa kembali berdaya,” ujar Minan di sela-sela kegiatannya.

Jika diukur dengan kacamata Social Return on Investment (SROI), nilai dari bantuan ini melampaui nominal yang diberikan. Dampak jangka panjangnya terasa pada terjaganya keberlangsungan hidup Bapak Suwandi sebagai pekerja mandiri, meringankan beban psikologis dan ekonomi keluarga Bapak Zaini, serta menjamin hak pendidikan seorang yatim piatu. Inilah inti dari semangat filantropi Islam: bahwa setiap rupiah zakat yang tersalurkan secara tepat sasaran akan bereaksi menjadi kekuatan kolektif yang menjaga martabat kemanusiaan.
Dengan sinergi bersama perangkat desa dan dukungan penuh dari para muzaki, BAZNAS Kabupaten Sidoarjo terus berkomitmen untuk tidak meninggalkan siapapun di belakang. Melalui sentuhan-sentuhan kecil yang berkelanjutan, zakat terbukti menjadi pilar utama yang mampu menguatkan Indonesia, dimulai dari ketangguhan warga di tiap sudut Sidoarjo.












