
Sidoarjo, 15 Juli 2026 – Di balik pintu rumah yang sederhana di Kelurahan Juwetkenongo, Kecamatan Porong, sebuah kisah tentang keteguhan hati dan keinginan untuk kembali merajut kedekatan dengan Sang Pencipta sedang dituliskan. Hari Rabu, 15 Juli 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo hadir membawa secercah harapan melalui Program Sidoarjo Taqwa, memberikan satu paket Al-Qur’an Braille 30 juz kepada M. Ikhsan Tohirin (34), seorang penyandang disabilitas netra yang memiliki tekad kuat untuk kembali mendalami kitab sucinya.
Ikhsan, yang telah hidup dalam kegelapan fisik sejak lahir, bukanlah sosok asing dengan huruf braille. Masa lalunya di Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi saksi bahwa ia pernah mahir meraba untaian makna di balik titik-titik timbul. Namun, waktu dan keterbatasan akses telah memudarkan keterampilan itu. Kini, ia merindukan kembali momen di mana jari-jemarinya dapat menelusuri ayat-ayat suci, sebuah kerinduan spiritual yang kini mulai mendapatkan jalan keluar.
BAZNAS Sidoarjo, melalui kehadiran Ilhammuddin (Wakil Ketua IV BAZNAS Sidoarjo), Ahmad Hamdani, dan Syukron In’am, datang tidak hanya untuk menyerahkan bantuan fisik, tetapi untuk memastikan bahwa investasi sosial dari dana zakat ini memberikan dampak berkelanjutan (Social Return on Investment). Bantuan Al-Qur’an Braille bukanlah akhir dari kepedulian, melainkan pintu pembuka bagi perubahan kualitas hidup Ikhsan ke depan.
Ilhammuddin menekankan bahwa esensi zakat melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan materi sesaat. “Zakat yang dihimpun dari masyarakat Sidoarjo bukan sekadar bantuan barang. Kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang bagi martabat dan kedekatan spiritual para mustahik. Dengan pemberian Al-Qur’an Braille ini, kita tidak hanya memberikan sarana baca, tetapi kita sedang mengembalikan akses Ikhsan terhadap cahaya ilahi. Dampak sosial yang kita harapkan adalah kemandirian spiritual yang akan meningkatkan kesejahteraan psikologis dan martabat beliau di masyarakat. Zakat benar-benar hadir untuk menguatkan Indonesia, mulai dari level individu hingga ke pelosok desa,” ujar Ilhammuddin dengan penuh empati.

Kehadiran BAZNAS dalam pendistribusian ini turut didampingi oleh Lurah Juwetkenongo, Ibu Isnani, dan perangkat desa setempat. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi kuat antara lembaga zakat dan pemerintah tingkat kelurahan dalam menjangkau warga yang membutuhkan dengan lebih personal dan tepat sasaran.
Lebih dari sekadar bantuan, BAZNAS Sidoarjo telah merancang Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret. Ikhsan secara sukarela berkomitmen untuk mengikuti kelas pembelajaran Baca Tulis Braille bersama komunitas Kawan Netra di Pagerwojo setiap hari Jumat. Inilah yang dimaksud dengan SROI yang nyata; bantuan fisik dikombinasikan dengan pendampingan sosial akan menghasilkan perubahan perilaku dan peningkatan keterampilan yang signifikan bagi penerima manfaat.
Dengan mengikuti kelas tersebut, Ikhsan tidak hanya akan kembali lancar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperluas jaringan sosialnya. Ia akan bertemu dengan kawan-kawan senasib yang memiliki semangat juang serupa, menciptakan ekosistem dukungan yang saling menguatkan. Sidoarjo Taqwa, melalui tangan BAZNAS, berhasil menjahit kembali potongan-potongan harapan yang sempat tercecer, memastikan bahwa tidak ada warga Sidoarjo yang tertinggal dalam memeluk nilai-nilai keagamaan.
Penyaluran ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa zakat adalah kekuatan transformatif. Di setiap lembar Al-Qur’an Braille yang diterima Ikhsan, tersimpan doa dan harapan dari para muzaki (pembayar zakat) di Sidoarjo. Sinergi antara keikhlasan muzaki, profesionalisme pengelolaan BAZNAS, dan semangat juang para mustahik adalah kunci utama dalam membangun masyarakat yang religius dan berdaya. Inilah manifestasi nyata bahwa zakat menguatkan Indonesia.












