
SIDOARJO – Selasa, 21 April 2026, menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi Rahayu (46), warga Desa Becirongengor, Wonoayu. Di bawah langit Sidoarjo yang cerah, senyum janda satu anak ini merekah lebih lebar dari biasanya. Rumah yang dulunya menjadi saksi bisu perjuangannya bertahan hidup sebagai buruh borongan dengan penghasilan tak menentu, kini telah bersalin rupa menjadi hunian yang kokoh, sehat, dan layak.
Kegiatan monitoring Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) siang itu bukan sekadar seremoni formal. Penyerahan Berita Acara Serah Terima (BAST) yang dilakukan langsung oleh Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar—atau yang akrab disapa Gus Jazuk—menjadi simbol tuntasnya sebuah amanah. Didampingi staf pelaksana, Ricky Prabu, Gus Jazuk berkeliling memastikan setiap sudut rumah bercat hijau cerah itu benar-benar siap memberikan kenyamanan bagi sang pemilik.
Jejak Kepedulian yang Bermula dari Sidak
Perjalanan transformasi rumah ini bermula pada 7 Maret 2026 lalu. Kala itu, Bupati Sidoarjo, H. Subandi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan mendapati kondisi kediaman Rahayu yang sangat memprihatinkan. Atap yang rapuh dan dinding yang hampir roboh membuat hati siapa pun yang melihatnya terenyuh. Sebagai pemimpin yang peka, Bupati Subandi berjanji bahwa pemerintah melalui BAZNAS akan segera hadir memberikan solusi nyata.
“Zakat bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tapi soal bagaimana dana umat ini mampu mengubah air mata menjadi tawa, dan rasa was-was menjadi rasa aman,” ungkap Gus Jazuk dengan nada penuh empati saat prosesi monitoring.
Beliau menegaskan bahwa percepatan renovasi ini adalah bentuk sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah daerah dengan tata kelola filantropi Islam yang responsif.
Zakat: Pilar Penguat Kehidupan
Bagi Rahayu, rumah baru ini adalah sebuah mukjizat. Sebagai buruh borongan, jangankan untuk merenovasi rumah, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pun ia harus memeras keringat lebih kencang. Kini, ia tak perlu lagi menyiapkan ember saat hujan turun atau merasa cemas saat angin kencang menerjang.
Gus Jazuk menambahkan bahwa BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk terus bergerak cepat dalam program RLHB.
“Setiap rupiah yang disetorkan oleh para muzakki di Sidoarjo, kini telah mengalir menjadi semen, pasir, dan atap yang melindungi saudara-saudara kita. Inilah bukti nyata bahwa Zakat Menguatkan Indonesia,” tuturnya.

Penyerahan BAST: Simbol Martabat Baru
Dalam tinjauannya, Ricky Prabu memastikan bahwa spesifikasi bangunan sudah sesuai dengan standar kelayakan, baik dari segi ventilasi, pencahayaan, maupun konstruksi. BAZNAS tidak hanya ingin membangun rumah secara fisik, tetapi juga ingin mengembalikan martabat dan marwah bagi para penerimanya.
Penyerahan Berita Acara Serah Terima (BAST) menjadi dokumen legal yang menandai bahwa rumah tersebut kini resmi diserahkan kembali kepada Ibu Rahayu dalam kondisi yang jauh lebih baik dan manusiawi.
Saat tim berpamitan, doa tulus mengalir dari bibir Ibu Rahayu. Sebuah rumah mungkin hanya terdiri dari dinding dan atap, namun bagi mereka yang dibantu, itu adalah fondasi baru untuk merajut masa depan yang lebih bermartabat. Melalui program RLHB di Desa Becirongengor ini, BAZNAS Sidoarjo kembali membuktikan bahwa kolaborasi antara kepemimpinan yang peduli dan pengelolaan zakat yang amanah adalah kunci utama dalam mengikis kemiskinan di Bumi Jenggolo.
Zakat Menguatkan Indonesia.












