
Di bawah terik matahari Sidoarjo yang menyengat, Chasbil Aziz Salju Sodar—atau yang akrab disapa Gus Jazuk—melangkah menyusuri Jalan sempit, meninggalkan kantor BAZNAS demi satu tujuan utama: memastikan tangan kemanusiaan menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Hari ini, Senin, 20 Juli 2026, bukan sekadar agenda distribusi bantuan, melainkan sebuah misi untuk merajut kembali harapan yang sempat luruh.
Perjalanan dimulai di Desa Sedatiagung, Kecamatan Sedati. Di sana, Bapak Sadi telah lama menanti sebuah mobilitas yang selama ini hilang. Ketika sebuah kursi roda baru diserahkan langsung oleh Gus Jazuk bersama tim pelaksana BAZNAS, raut wajah Bapak Sadi berubah. Ada binar haru yang tak mampu ia sembunyikan. Baginya, kursi roda ini bukan sekadar alat bantu fisik, melainkan jembatan yang akan menghubungkan kembali dirinya dengan interaksi sosial dan kemandirian yang sempat meredup. Inilah esensi dari zakat yang menguatkan—memberikan dampak yang melampaui angka, menciptakan transformasi kualitas hidup yang terasa nyata bagi mustahiq.
Tak berhenti di sana, langkah Gus Jazuk berlanjut ke Desa Punggul, Kecamatan Gedangan. Di sebuah hunian sederhana yang berdiri di atas tanah sempadan, Pak Lasdi dan Bu Silfi Nur Chomaria menyambut kedatangan tim dengan kerentanan yang mendalam. Mereka adalah potret keluarga yang sedang berjuang di tengah keterbatasan tempat tinggal dan ketidakpastian ekonomi.
Saat Gus Jazuk berbincang dengan mereka, tampak jelas bahwa bantuan yang diberikan hari ini bertujuan untuk memberikan napas lega agar mereka dapat menyambung hidup dengan sedikit lebih tenang. Bantuan ini dirancang bukan sekadar sebagai solusi instan, melainkan sebagai upaya untuk menstabilkan kondisi rumah tangga mereka agar memiliki ruang untuk kembali bangkit.

Dalam setiap kunjungannya, Gus Jazuk selalu menekankan bahwa zakat adalah amanah yang harus dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Ia melihat bahwa ketika kita membantu seseorang seperti Bapak Sadi untuk bergerak kembali, atau meringankan beban Pak Lasdi dan Bu Silfi, kita sebenarnya sedang membangun ekosistem masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya. Dampak sosial dari kehadiran tim BAZNAS di lapangan ini menciptakan efek domino—kesehatan yang membaik, beban mental yang berkurang, dan semangat hidup yang kembali tumbuh adalah investasi sosial yang tidak ternilai bagi Sidoarjo.
Zakat Menguatkan Indonesia, dan di Sidoarjo, semangat itu diwujudkan dengan jemput bola, hadir di rumah-rumah mustahiq, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang terlewatkan dalam pelukan kepedulian. Gus Jazuk dan timnya terus bergerak, memastikan bahwa setiap rupiah dari para muzakki bertransformasi menjadi senyuman, kemandirian, dan masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang berada di ujung keterbatasan. Inilah komitmen BAZNAS Sidoarjo: hadir, peduli, dan menguatkan.












