BeritaHeadline

Cahaya Al-Qur’an di Ujung Jari: Nyalakan Asa Guru Ngaji Tunanetra

37
×

Cahaya Al-Qur’an di Ujung Jari: Nyalakan Asa Guru Ngaji Tunanetra

Sebarkan artikel ini

 

Di sebuah sudut Desa Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon, tepatnya di kediaman Pak Sukiyat yang sehari-hari menjadi klinik pijat netra Bina Sejahtera, waktu seolah berhenti sejenak setiap hari Kamis. Di tempat inilah komunitas Kawan Netra berkumpul, merajut asa di tengah keterbatasan penglihatan. Dengan penuh ketekunan, jemari mereka meraba lembaran-lembaran Al-Qur’an Braille, mengeja ayat suci demi menyebarkan cahaya ilahi kepada sesama. Hari itu, Kamis (30/7/2026), ruangan sederhana tersebut menjadi saksi bisu atas sebuah perjumpaan yang menggetarkan hati, ketika empati hadir dalam wujud nyata kepedulian sosial.

Kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo di tengah-tengah mereka membawa gelombang kehangatan tersendiri. Melalui langkah tegap Wakil Ketua II BAZNAS Sidoarjo, M. Mahbub (Gus Mahbub), bersama Wakil Ketua IV, Ilhammudin, serta jajaran staf pelaksana Ahmad Hamdani dan M. Kholid Musyaddad, lembaga filantropi ini menyapa para guru ngaji tunanetra dengan senyuman dan dekapan emosional yang mendalam. Zakat yang dititipkan umat tidak hanya berhenti pada angka-angka statistik, tetapi menjelma menjadi denyut nadi kehidupan yang menghidupkan kembali harga diri serta martabat kemanusiaan para penerima manfaat.

Komunitas Kawan Netra bukan sekadar wadah belajar, melainkan sebuah simpul kolaborasi sosial yang merekatkan solidaritas umat. Empat sosok guru ngaji tangguh—M. Sirotol Mustakim (55 tahun), Heri Cahyono (43 tahun), Lilis Atik (52 tahun), dan Imam Safi’i (44 tahun)—mendapatkan uluran tangan berupa program bisyaroh bulanan sebesar Rp500.000. Dalam perspektif Social Return on Investment (SROI), dampak dari uluran tangan ini melampaui sekadar bantuan finansial jangka pendek. Nilai sosial yang tercipta diukur dari peningkatan ketenangan batin, keberlanjutan proses pengajaran agama bagi penyandang disabilitas netra, serta penguatan kohesi sosial di akar rumput.

Gus Mahbub menyampaikan bahwa kehadiran BAZNAS di tengah komunitas difabel netra adalah wujud nyata keberpihakan zakat kepada kelompok rentan yang sering kali terabaikan. “Zakat bukan sekadar kewajiban menolong sesama di dunia, melainkan jembatan keimanan yang menyelamatkan kita di akhirat, memastikan bahwa mereka yang berjuang di jalan Allah dengan segala keterbatasannya tidak pernah merasa berjalan sendirian,” ujarnya merefleksikan kedalaman makna filantropi Islam.

Melalui pendekatan pemberdayaan yang menyentuh dimensi spiritual dan psikososial, kolaborasi ini mengubah kerentanan menjadi kekuatan. Para guru ngaji braille kini dapat lebih fokus menularkan ilmu tanpa dibayangi kecemasan esok hari. Jejak langkah BAZNAS Sidoarjo bersama Kawan Netra di Kedungwonokerto membuktikan bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya terpancar dari bacaan lisan, tetapi juga bersinar terang dari ketulusan hati para dermawan yang merangkul sesama tanpa batasan fisik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!