
In this economy, seorang juru parkir di usia senja bernama Bapak Rochmad tetap harus mengerahkan sisa-sisa tenaganya di bawah terik matahari, menjaga kendaraan di Desa Magersari RT 8 RW 3, Kabupaten Sidoarjo. Di usianya yang seharusnya menjadi masa menepi dan beristirahat, deru kendaraan dan kerasnya jalanan masih menjadi teman setianya demi menyambung hidup. Senin, 19 Oktober 2026, langkah kaki kepedulian hadir menyapa kesehariannya melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo yang menyalurkan program distribusi bantuan biaya hidup.
Kehadiran jajaran pengurus BAZNAS Sidoarjo yang dipimpin langsung oleh Wakil Ketua I, Em. Luqman Hakiem, S.Th.I., atau yang akrab disapa Gus Lukman, bersama staf pelaksana Kholid Musyadad, membawa secercah harapan hangat di tengah dinginnya himpitan kesulitan ekonomi. Penyaluran ini bukan sekadar uluran tangan sementara, melainkan sebuah bentuk investasi sosial jangka panjang yang menggerakkan roda keberkahan—menciptakan nilai tambah kesejahteraan yang dampaknya langsung dirasakan oleh penerima manfaat untuk memulihkan martabat hidup mereka secara berkelanjutan.
Dalam penyaluran yang sarat akan kehangatan emosional tersebut, Gus Lukman menegaskan bahwa esensi dari filantropi Islam adalah jembatan solidaritas nyata yang merajut kepedulian sosial di bumi.
“Zakat menolong sesama di dunia, menyelamatkan kita di akhirat. Apa yang kita tunaikan hari ini melalui dana umat bukan sekadar angka atau serah terima materi semata, melainkan wujud kehadiran nyata negara dan masyarakat untuk mengembalikan senyum serta harapan saudara-saudara kita yang tengah berjuang melawan beratnya beban hidup,” ujar Gus Lukman dengan penuh penghayatan di hadapan para penerima manfaat.
Perjalanan kemanusiaan pada hari Senin tersebut berlanjut ke titik kedua, menyambangi kediaman Bapak M. Ikhwan di Desa Kemiri RT 7 RW 3, Sidoarjo. Setibanya di lokasi, rombongan BAZNAS disambut oleh sang istri beserta keluarga. Bapak M. Ikhwan sendiri tidak dapat membersamai langsung penyerahan bantuan karena tengah berjuang melawan cobaan berat berupa penyakit stroke dan harus dirawat di tempat lain.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kerapuhan kesehatan dapat melumpuhkan sendi-sendi ekonomi sebuah keluarga dalam sekejap. Bantuan biaya hidup yang diserahkan kepada sang istri menjadi penopang moral sekaligus penawar lara yang sangat berarti di tengah masa-masa pemulihan kesehatan sang kepala keluarga. Setiap senyuman tipis dan mata berkaca-kaca dari keluarga penerima manfaat menjadi bukti tak terbantahkan bahwa setiap tetes kepedulian muzakki mampu melipatgandakan kebaikan sosial, mengubah rasa putus asa menjadi ketegaran, serta merajut kembali simpul-simpul kesejahteraan komunal di Kabupaten Sidoarjo.
Melalui sinergi kebaikan ini, BAZNAS Sidoarjo terus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat gerakan zakat, infak, dan sedekah. Sebab, di balik setiap rupiah yang ditunaikan, terdapat jiwa-jiwa renta seperti Pak Rochmad dan keluarga pejuang kesembuhan seperti Pak M. Ikhwan yang kembali menemukan alasan untuk terus melangkah menghadapi hari esok dengan penuh keyakinan.












