BeritaHeadline

Senyum Mbah Ji’ah: Saat Roda Kebaikan Menyapa Kedungbocok

9
×

Senyum Mbah Ji’ah: Saat Roda Kebaikan Menyapa Kedungbocok

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Mentari belum tepat berada di atas kepala ketika rombongan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyusuri jalanan desa di wilayah SIDOARJO – Mentari belum tepat berada di atas kepala ketika rombongan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyusuri jalanan desa di wilayah Tarik, Kamis (30/4/2026). Di dalam mobil, sebuah kursi roda baru masih terbungkus rapi, membawa misi sederhana namun bermakna: memerdekakan langkah mereka yang terbelenggu keterbatasan fisik.Dalam dunia filantropi, bantuan yang tepat sasaran adalah amanah utama.

Perjalanan hari itu sebenarnya membawa cerita tentang ketulusan yang berantai. Awalnya, tim yang dipimpin oleh Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, H. Achmad Saleh, bersama staf pelaksana Hamdani dan Syukron In’ami. Tanpa menunda waktu,  menuju Desa Kedungbocok, RT 07 RW 04. Di sana, seorang lansia tangguh bernama Mbah Ji’ah (86) tengah menanti mukjizat kecil untuk masa tuanya.

Langkah yang Terhenti di Usia Senja

Mbah Ji’ah bukan lagi sosok yang lincah seperti dulu. Di usianya yang hampir menyentuh sembilan dekade, ia kini tengah berjuang melewati masa pemulihan pasca-sakit. Kaki yang dulunya kokoh menopang hidup, kini tak lagi mampu berjalan normal. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan duduk atau bersandar, menatap halaman rumah dengan kerinduan untuk bisa bergerak bebas.

Kedatangan tim BAZNAS Sidoarjo di teras rumahnya yang sederhana menjadi oase. Dengan cekatan, Achmad Saleh dan tim membuka kardus besar bertuliskan “Wheelchair”. Prosesi unboxing itu disaksikan langsung oleh Mbah Ji’ah dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.

“Alhamdulillah, bantuan ini adalah wujud kehadiran para muzakki (pembayar zakat) Sidoarjo untuk masyarakat yang membutuhkan. Kami ingin memastikan tidak ada warga kita yang merasa sendirian dalam kesulitan,” ujar Achmad Saleh sembari membantu merakit bagian-bagian kursi roda.

Zakat Menguatkan Indonesia

Suasana berubah haru saat Mbah Ji’ah perlahan dibantu untuk duduk di atas kursi roda barunya. Jemarinya yang mulai keriput meraba sandaran tangan yang masih mulus. Ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang teduh. Bagi Mbah Ji’ah, ini bukan sekadar alat bantu medis; ini adalah kaki baru yang akan membantunya kembali menghirup udara luar dengan lebih mudah.

“Matur nuwun, Nak. Matur nuwun BAZNAS,” ucapnya lirih dengan suara bergetar penuh syukur.

Penyaluran bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara profesional mampu menjadi solusi konkret bagi persoalan sosial di tingkat akar rumput. Dari satu desa ke desa lain, BAZNAS Sidoarjo terus bergerak memastikan bahwa setiap rupiah dari para donatur berubah menjadi senyum dan kemandirian bagi kaum dhuafa.

Hari itu, di Kedungbocok, roda kehidupan Mbah Ji’ah kembali berputar dengan lebih ringan. Seiring dengan slogan yang selalu digaungkan, “Zakat Menguatkan Indonesia”, aksi nyata ini sekali lagi membuktikan bahwa kepedulian adalah perekat terkuat bagi bangsa ini.

Kegiatan yang berlangsung singkat antara pukul 10.47 hingga 10.52 WIB itu mungkin terasa sebentar, namun bagi Mbah Ji’ah, dampaknya akan terasa sepanjang sisa usianya. Tim BAZNAS pun berpamitan, meninggalkan Desa Tarik dengan perasaan lega, membawa pulang satu lagi cerita tentang bagaimana kebaikan selalu menemukan jalannya sendiri.

 

BAZNAS Sidoarjo: Pilihan Pertama Pembayar Zakat, Lembaga Utama Menyejahterakan Umat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!