
SIDOARJO – Di sebuah sudut Desa Ngampelsari, Kecamatan Candi, suara deru mesin jahit tua menjadi irama harian yang menemani sepi Ibu Warti (62). Di balik kerutan di wajahnya, tersimpan keteguhan seorang janda yang berjuang menyambung hidup sebagai buruh jahit. Namun, di balik semangatnya yang tak kunjung padam, tersimpan kekhawatiran mendalam setiap kali awan mendung menggelayuti langit Sidoarjo.
Rabu (29/4), tim BAZNAS Sidoarjo melangkah menyusuri gang sempit menuju kediaman Ibu Warti. Kedatangan tim yang didampingi perangkat desa setempat ini bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan sebuah misi kemanusiaan: memverifikasi kelayakan hunian dalam program Rumah Layak Huni (RLH).
Kondisi yang Mengiris Hati
Begitu menginjakkan kaki di pelataran rumah, realitas pahit langsung tersaji. Teras rumahnya masih beralaskan tanah, sejajar dengan ketinggian jalan. Saat intensitas hujan tinggi, air bukan lagi tamu yang mengetuk pintu, melainkan musuh yang langsung menggenangi ruang hidupnya.
“Kalau hujan deras, saya hanya bisa berdoa. Air masuk dari bawah, sementara dari atas plafon bocor di mana-mana,” ungkap Ibu Warti dengan nada lirih saat berbincang dengan petugas.
Mendongak ke atas, struktur atap kayu yang menjadi pelindung satu-satunya sudah tampak lapuk dimakan usia. Di beberapa titik, lubang-lubang besar menganga, saksi bisu rapuhnya pertahanan rumah tersebut. Kondisi paling memprihatinkan terlihat di bagian belakang; area dapur telah ambruk total. Material penyangga yang sudah menua tak lagi sanggup menahan beban, meninggalkan puing-puing yang tak mungkin lagi digunakan untuk meracik hidangan bagi putri tercintanya yang baru saja lulus SMA.
Zakat Menguatkan Indonesia
Ricky Prabu, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin langsung proses asesmen, mencatat setiap detail kerusakan dengan seksama. Baginya, kasus Ibu Warti adalah potret nyata di mana kehadiran zakat harus dirasakan manfaatnya secara langsung.
“Melihat kondisi lapangan secara langsung, hunian Ibu Warti memang sangat tidak layak dan mendesak untuk segera diperbaiki. Melalui dana zakat yang dikelola, kami berkomitmen untuk mengubah duka menjadi harapan. Ini adalah amanah dari para muzakki (pembayar zakat) untuk memastikan bahwa warga seperti Ibu Warti bisa tidur dengan tenang tanpa rasa takut atap akan roboh atau banjir menerjang,” ujar Ricky Prabu.

Menenun Masa Depan
Bagi Ibu Warti, bantuan perbaikan rumah ini bukan sekadar renovasi fisik. Ini adalah tentang martabat dan masa depan. Di rumah itulah, ia membesarkan putrinya yang kini tengah gigih mencari kerja untuk membantu ekonomi keluarga. Dukungan dari BAZNAS Sidoarjo melalui program RTLH ini menjadi oase di tengah impitan ekonomi.
Berdasarkan hasil verifikasi lapangan, hunian Ibu Warti dinyatakan layak dan menjadi prioritas untuk mendapatkan bantuan perbaikan. Kabar ini menjadi secercah cahaya bagi sang buruh jahit; bahwa ia tidak berjuang sendirian.
Melalui sinergi antara BAZNAS, pemerintah desa, dan kepedulian masyarakat, program ini kembali menegaskan bahwa Zakat Menguatkan Indonesia. Bukan hanya membangun dinding yang kokoh, tapi juga membangun kembali harapan yang sempat runtuh bersama atap dapur yang ambruk.
Langkah ini adalah awal. Perjalanan menenun asa bagi Ibu Warti akan segera dimulai, memastikan setiap jahitan kain yang ia kerjakan tak lagi terganggu oleh tetesan air hujan yang masuk ke dalam rumah.












