
Sidoarjo — Di balik pintu gerbang besi bertuliskan “Rumah Singgah Mustahik BAZNAS Kabupaten Sidoarjo”, ada cerita tentang bagaimana sebuah bangunan sederhana mengubah jalan hidup orang-orang yang datang dari jauh, dengan hati yang berat dan kantong yang menipis. Salah satunya adalah Miswadi (64), warga Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, yang kini menggantungkan harapan kesembuhannya pada rangkaian terapi di Klinik Onkologi Radiasi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Miswadi dirujuk dari RSUD dr. Iskak Tulungagung untuk menjalani perawatan lanjutan di Klinik Onkologi Radiasi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Rujukan ini muncul setelah kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut yang tak tersedia di daerah asalnya. Jarak antara Trenggalek dan Sidoarjo yang mencapai lebih dari seratus kilometer bukan perkara kecil bagi seorang pasien yang harus bolak-balik menjalani kontrol dan terapi dalam kondisi tubuh yang belum stabil. Jika dihitung dengan logika sederhana saja, ongkos transportasi pulang-pergi, biaya menginap, hingga waktu yang tersita, bisa dengan mudah menjadi beban yang menggagalkan niat berobat sejak awal.
Di situlah Rumah Singgah Mustahik BAZNAS hadir mengisi celah yang selama ini kerap luput dari perhatian: bukan hanya soal biaya pengobatan yang ditanggung BPJS, tetapi biaya “tak kasat mata” di sekitar pengobatan itu sendiri — tempat tinggal, rasa aman, dan waktu istirahat yang layak antara satu jadwal kontrol dengan jadwal berikutnya.
Kontrol pertama Miswadi di RSUD Notopuro dijalani pada Senin, 3 Agustus 2026. Dokter menyatakan kondisinya masih belum stabil, sehingga pengobatan jalan diperkirakan berlangsung hingga sekitar Oktober mendatang. Kontrol berikutnya telah dijadwalkan pada 21 Agustus 2026. Artinya, dalam kurun waktu dua bulan lebih itu, Miswadi mungkin harus menempuh perjalanan jauh berkali-kali — sebuah rutinitas yang, tanpa uluran tangan Rumah Singgah, bisa jadi memaksanya memilih antara berobat atau bertahan hidup dengan apa adanya.
Staf pelaksana Rumah Singgah Mustahik BAZNAS Sidoarjo, Hariyanto, menuturkan bahwa setiap mustahik yang datang membawa cerita perjuangan yang berbeda, namun kebutuhan dasarnya sama: tempat berteduh yang layak selama masa pengobatan.
“Kami di sini hadir untuk meringankan beban mereka yang datang jauh-jauh berobat. Pak Miswadi salah satu dari sekian banyak saudara kita yang harus bolak-balik kontrol demi kesembuhannya. Selama itu, biar urusan tempat tinggal jadi tanggung jawab kami, supaya beliau bisa fokus pada pengobatan,” ujar Hariyanto.

Yang menarik dari model bantuan semacam ini adalah dampaknya yang berlipat ganda. Satu kamar di Rumah Singgah bukan hanya menghemat pengeluaran seorang pasien untuk biaya penginapan, tetapi juga menjaga kesinambungan pengobatannya — mencegah putus terapi yang justru berisiko memperburuk kondisi dan pada akhirnya membutuhkan biaya pengobatan yang jauh lebih besar. Dengan kata lain, setiap rupiah zakat yang dikelola BAZNAS untuk fasilitas semacam ini tidak berhenti pada nilai nominalnya, melainkan menyelamatkan sebuah proses penyembuhan yang bisa jadi menentukan hidup seseorang.
Bagi para muzaki yang menitipkan zakatnya melalui BAZNAS, kisah Miswadi barangkali hanya satu dari ratusan cerita serupa yang tak pernah mereka dengar langsung. Namun di sanalah esensi zakat sesungguhnya bekerja: menembus jarak, menembus keterbatasan, dan hadir tepat di titik paling genting seorang hamba yang tengah berjuang antara sakit dan harapan sembuh. Sebagaimana pesan yang menaungi semangat Rumah Singgah ini — zakat menolong sesama di dunia, menyelamatkan kita di akhirat.












