
Sidoarjo, 11 Agustus 2026 – Di balik hiruk-pikuk pembangunan Kabupaten Sidoarjo, masih terdapat denyut kehidupan yang membutuhkan uluran tangan kasih. Selasa pagi ini, tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo bergerak melakukan aksi jemput bola, memastikan bahwa amanah zakat, infak, dan sedekah tersalurkan tepat kepada mereka yang paling membutuhkan.
Bagi BAZNAS, setiap bantuan bukan sekadar angka atau materi yang berpindah tangan. Lebih jauh, setiap rupiah yang disalurkan adalah investasi kemanusiaan yang berupaya memulihkan martabat dan memberikan harapan baru. Dampak jangka panjang dari bantuan ini diharapkan mampu menjadi pemicu kemandirian bagi keluarga penerima, menciptakan efek domino positif bagi kesejahteraan lingkungan sekitar mereka.
Realita di Lapangan: Antara Kebutuhan dan Data
Perjalanan tim hari ini membawa kami pada realita yang menggugah empati di dua lokasi berbeda, yakni Buduran dan Sedati. Di Desa Sawohan, Buduran, tim bertemu dengan Ibu Siti Irnaini (38), seorang ibu yang berjuang membesarkan dua anaknya dalam keterbatasan. Hidup di rumah berukuran 3×3 meter tanpa aliran listrik mandiri—masih harus menyalurkan daya dari tetangga—menunjukkan betapa berat tantangan hidup yang ia hadapi. Berdasarkan penelusuran data pada sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Ibu Siti tercatat di desil 4.
Sementara itu, di Sedati Gede, tim menjumpai Ibu Ervina Pujiana (40), seorang pedagang es jus yang menjalani hari-hari di rumah kos. Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan memaksa Ibu Ervina untuk terus berikhtiar di tengah ketidakpastian. Dalam sistem DTKS, Ibu Ervina tercatat berada pada desil 6-10.
Advokasi dan Harapan
Temuan di lapangan ini menjadi catatan krusial bagi BAZNAS. Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang terjun langsung ke lokasi, mengungkapkan pentingnya sinkronisasi data untuk keberlanjutan bantuan di masa depan.
“Tugas kami tidak hanya mendistribusikan bantuan, tapi juga memastikan bahwa mereka yang benar-benar membutuhkan mendapatkan perhatian yang seharusnya. Melihat kondisi riil di lapangan, khususnya perbedaan profil sosial-ekonomi yang kami temukan, kami merasa perlu adanya peninjauan ulang terhadap status DTKS mereka. Kami akan segera berkoordinasi dan mengusulkan pemutakhiran data kepada Dinas Sosial agar ke depannya mereka bisa mendapatkan akses program bantuan pemerintah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan,” ujar Sofwan saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Langkah pengusulan perubahan status DTKS ini menjadi bagian tak terpisahkan dari misi BAZNAS untuk membangun ekosistem bantuan yang adil. Dengan memastikan data penerima manfaat akurat dan mutakhir, BAZNAS berharap mampu mengoptimalkan potensi bantuan, sehingga keluarga seperti Ibu Siti dan Ibu Ervina memiliki jaring pengaman sosial yang lebih kuat.
Aksi hari ini adalah pengingat bahwa zakat bukan hanya soal menolong sesama di dunia, tetapi juga tentang menabung kebaikan untuk menyelamatkan kita di akhirat. Setiap sen yang disalurkan adalah bentuk nyata kepedulian yang diharapkan mampu mengubah arah kehidupan mereka menjadi lebih cerah, setahap demi setahap, menuju kemandirian yang hakiki.












