
SIDOARJO — Terkurung dalam sunyi kemiskinan ekstrem tanpa tersentuh jaring pengaman sosial apa pun, hari-hari warga dhuafa di Sidoarjo berputar dalam keterbatasan yang menyayat hati. Senin, 27 Juli 2026, tepat pukul 10.30 WIB, langkah kaki dua orang staf pelaksana Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo, Syukron In’am dan M. Sofwan, bergerak cepat menembus lorong perkampungan padat di Desa Kwangsan, Kecamatan Sedati, untuk membawa secercah asa melalui misi distribusi bantuan kursi roda.
Setibanya di lokasi tujuan, tim BAZNAS langsung menyapa dan menemui Ibu Khomariah, seorang perempuan sepuh yang usianya kini telah menginjak angka 95 tahun. Di usia senjanya yang begitu renta, dunia Ibu Khomariah telah berubah menjadi gulita total akibat kebutaan yang dialaminya karena faktor usia lanjut. Ia hanya bisa pasrah berbaring di atas selembar alas sederhana, menjalani sisa umur dalam kesunyian, dan dirawat dengan penuh ketulusan serta kesabaran oleh anak tercinta di dalam rumah yang sangat bersahaja.
Berdasarkan hasil penelusuran lapangan yang dicocokkan secara teliti dengan sistem cek bansos, kondisi Ibu Khomariah tergolong dalam kategori kemiskinan ekstrem Desil 1 yang sangat memprihatinkan. Ironisnya, lansia ini tercatat sama sekali tidak pernah tersentuh maupun menerima program jaring pengaman sosial jenis apapun dari pemerintah—baik bantuan sembako reguler, Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan permakanan, PBI-JK, bantuan yatim piatu, maupun BLTS. Di tengah himpitan hidup tanpa sandaran finansial yang layak, kehadiran kursi roda dari BAZNAS Sidoarjo menjadi mukjizat kecil yang mengembalikan asa dan senyuman di wajahnya.
Usai merampungkan asesmen mendalam di Kwangsan, tim bergerak cepat menuju titik kedua di Kelurahan Bulu Sidokare, Kecamatan Kota Sidoarjo. Pukul 11.10 WIB, tim tiba di kediaman Ibu Hosinah (55). Kondisi tak kalah menyayat hati menyambut kedatangan tim; di usianya yang paruh baya, Ibu Hosinah harus tabah menghadapi ujian hidup yang sangat berat setelah kaki kanannya terpaksa diamputasi total akibat komplikasi penyakit diabetes melitus kronis. Keterbatasan fisik yang mendadak ini merenggut mobilitasnya, membuatnya tak berdaya dan hanya bisa berbaring di pembaringan rumah.

Dari sudut pandang analisis Social Return on Investment (SROI), intervensi kemanusiaan yang digerakkan oleh BAZNAS Sidoarjo ini memberikan return atau tingkat pengembalian sosial yang luar biasa besar bagi kehidupan masyarakat rentan. Setiap instrumen zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dihimpun dari para muzaki bertransformasi menjadi nilai tambah yang nyata: memulihkan mobilitas fisik penerima manfaat, meringankan beban psikologis serta kelelahan fisik keluarga pendamping, mengembalikan produktivitas informal keluarga, serta mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan kaum duafa yang selama ini terpinggirkan dari radar bantuan sosial konvensional.
Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin langsung misi kemanusiaan di lapangan bersama Syukron In’am, menegaskan bahwa penyaluran kursi roda ini adalah wujud nyata kehadiran lembaga pengelola zakat untuk memastikan tidak ada satupun warga miskin ekstrem yang dibiarkan berjuang sendirian dalam kesendirian dan derita. Melalui kepedulian kolektif para dermawan, BAZNAS terus berkomitmen merentangkan tangan kasih, menjangkau lapisan masyarakat paling bawah yang membutuhkan uluran tangan mendesak di bumi Sidoarjo.
Aksi kemanusiaan ini kembali menegaskan esensi agung filantropi Islam. Zakat terbukti bukan sekadar ritual ibadah vertikal semata, melainkan instrumen kekuatan transformatif horizontal yang ampuh menyelamatkan kehidupan sesama manusia. Sesuai dengan semboyan mulia yang senantiasa menuntun langkah juang para amil: Zakat: Menolong Sesama di Dunia, Menyelamatkan Kita di Akhirat.












