
Sidoarjo — Sebuah langkah awal yang sarat akan makna baru saja tertoreh di Gampong Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Proses peletakan batu pertama pembangunan Mushollah Dayah Nurul Yaqin menjadi penanda dimulainya ikhtiar bersama untuk menghadirkan sarana ibadah dan pendidikan yang lebih layak bagi santri serta masyarakat setempat. Pembangunan ini bukan sekadar tentang mendirikan bangunan fisik, melainkan sebuah manifestasi konkret dari kepedulian yang menembus batas geografis.
Pembangunan Mushollah Dayah Nurul Yaqin merupakan wujud nyata bagaimana filantropi Islam mampu melampaui batas jarak. Dana yang dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo ini merupakan amanah yang dititipkan oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Al Falah Kediri, para santri, serta alumni yang terhimpun dalam Ikatan Mutakhorijin Al Falah Ploso (IMAP). Sinergi kolektif ini mencerminkan keberhasilan model pemberdayaan umat yang mengedepankan kolaborasi untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
Jika dianalisis dari perspektif Social Return on Investment (SROI), bantuan ini membawa nilai sosial yang melampaui nominal materi. Mushollah yang nantinya berdiri tegak ini diproyeksikan menjadi episentrum kegiatan keislaman, tempat di mana nilai-nilai akhlak diajarkan, serta wadah bagi pengembangan SDM di wilayah Bungkah. Keberlanjutan fungsi masjid dan mushollah dalam jangka panjang sebagai pusat peradaban memberikan *social return* yang tak terhitung nilainya bagi penguatan modal spiritual dan edukasi generasi mendatang di Aceh.
Ditemui di kantor BAZNAS Sidoarjo pada Senin (06/07/2026), Ketua BAZNAS Sidoarjo, Chasbil Aziz Salju Sodar, atau yang akrab disapa Gus Jazuk, menegaskan bahwa bantuan ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan lembaganya dalam menebar manfaat. Beliau menekankan bahwa sinergi lintas wilayah antara Sidoarjo dan Aceh melalui jaringan alumni pondok pesantren merupakan kunci efektivitas program pemberdayaan. Menurutnya, keberhasilan program filantropi tidak diukur dari seberapa besar dana yang disalurkan, melainkan dari seberapa besar kebermanfaatan yang dirasakan oleh penerima manfaat dan seberapa kokoh ikatan silaturahmi yang terbangun di atasnya.

Lebih lanjut, inisiasi pembangunan ini diharapkan dapat memantik semangat gotong royong yang lebih luas. Dengan selesainya mushollah ini kelak, diharapkan fungsi sosial dan dakwah dapat berjalan optimal, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi pemberdayaan masyarakat di Aceh Utara.
Setiap butir semen dan tumpukan batu yang terpasang dalam pembangunan ini membawa doa-doa dari para donatur di Sidoarjo. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang transparan, BAZNAS Sidoarjo bertekad untuk terus menjadi jembatan kebaikan yang menghubungkan para muzaki dengan mustahik di seluruh pelosok negeri. Sinergi ini sekaligus menegaskan semangat bahwa zakat menguatkan Indonesia, menjahit kembali benang-benang persaudaraan umat melalui aksi nyata yang berdampak.










