
Sidoarjo — BAZNAS Sidoarjo hadiri acara megah penuh kehangatan kemanusiaan dalam gelaran “Lebaran Yatim” yang diinisiasi oleh BAZNAS Provinsi Jawa Timur bersama Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Surabaya-Sidoarjo di SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (28/7/2026). Di tengah hembusan angin solidaritas sosial yang kuat, kehadiran jajaran pimpinan BAZNAS Sidoarjo menegaskan komitmen mendalam bahwa filantropi Islam bukan sekadar instrumen karikatif sesaat, melainkan jembatan suci yang menolong sesama di dunia sekaligus menyelamatkan kita di akhirat.
Acara yang sarat makna ini dihadiri langsung oleh Ketua BAZNAS Jatim Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si., para Wakil Ketua BAZNAS Jatim yakni Drs. KH. Masnuh, M.A., Dr. KH. Ahsanul Haq, M.Pd.I., Dr. KH. Muhammad Zakki, M.Si., Kepala Cabdindik Wilayah Surabaya-Sidoarjo Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd., serta pimpinan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo dan BAZNAS Kota Surabaya. Kehadiran ratusan anak yatim, mustahik penerima bantuan usaha, serta pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dari berbagai instansi merajut sebuah lanskap kepedulian yang hidup dan berdenyut di ruang-ruang kelas serta aula sekolah.
Dalam sambutannya, Dr. Kiswanto menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi kebaikan ini. Ia mengingatkan anak-anak yatim agar tidak pernah surut nyali dalam menatap masa depan, karena banyak orang sukses memulai perjuangannya dari bawah. Pesan penyejuk jiwa itu berpadu dengan pemaparan Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa yang menegaskan bahwa BAZNAS sebagai lembaga pemerintah nonstruktural pengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) terus berupaya memperluas jangkauan kebermanfaatan. Berdasarkan arahan Gubernur Jawa Timur, program santunan ini menjangkau 24 Cabdin di seluruh Jatim, dilengkapi dengan bantuan modal usaha mikro dan rombong bagi para pelaku usaha kecil untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Namun, di balik angka-angka statistik bantuan dan gemerlapnya seremonial, esensi sejati dari filantropi berakar pada ketulusan berbagi. Waka IV BAZNAS Sidoarjo, Ilhammuddin, dengan penuh penekanan menyampaikan pandangannya mengenai esensi agung zakat dan kepedulian sosial yang menggetarkan nurani:
“Zakat dan infak yang ditunaikan oleh para muzaki bukan sekadar menggugurkan kewajiban agama, melainkan sebuah manifestasi nyata dari cinta kasih yang menolong sesama manusia di dunia, sekaligus menjadi investasi keimanan yang menyelamatkan kita di akhirat kelak. Kehadiran BAZNAS Sidoarjo di sini adalah wujud nyata memastikan bahwa setiap rupiah dana umat sampai kepada tangan-tangan yang paling berhak, merajut senyum anak-anak yatim, dan membangkitkan asa para mustahik agar berdaya secara ekonomi.”
— Ilhammuddin (Waka IV BAZNAS Sidoarjo)
Pernyataan tersebut merangkum jiwa dari jurnalisme filantropi: bahwa setiap donasi, setiap senyuman anak yatim yang menerima tas sekolah dan santunan, serta setiap gerobak UMKM yang diserahkan, adalah bukti bahwa penderitaan sosial dapat dikikis lewat solidaritas yang terorganisir. Bantuan modal usaha senilai Rp2 juta dan fasilitas rombong senilai Rp3,5 juta yang diserahkan kepada para mustahik bukan sekadar bantuan material, melainkan pemulihan martabat manusia (human dignity).

Melalui momentum Lebaran Yatim ini, BAZNAS Sidoarjo bersama BAZNAS Jatim tidak sedang sekadar membagikan santunan. Mereka sedang menanam benih-benih harapan yang kokoh di bumi Sidoarjo, membuktikan bahwa tangan yang di atas selalu memberi kehidupan, dan harta yang disucikan melalui zakat akan kembali menjadi pelindung abadi di yaumil akhir. Gerakan filantropi ini menjadi pengingat abadi bahwa kepedulian sosial adalah denyut nadi kemanusiaan yang akan terus hidup, menyelamatkan dunia dari ketimpangan, dan menyelamatkan jiwa kita di akhirat nanti.












