BeritaHeadline

Menyambung Asa Kelompok Rentan: Dari Bilik Mawar hingga Perjuangan Hafidz di Ujung Sidoarjo

12
×

Menyambung Asa Kelompok Rentan: Dari Bilik Mawar hingga Perjuangan Hafidz di Ujung Sidoarjo

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Di bawah langit Kecamatan Taman yang teduh, sebuah misi kemanusiaan bergerak dalam senyap. Menindaklanjuti laporan darurat dari PKM Taman, tim pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang terdiri dari Badrus, Ahmad Hamdani, dan Syukron In’am meluncur menuju sebuah hunian sederhana. Kunjungan ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan upaya menjemput harapan bagi seorang anak yang kita sebut saja namanya Mawar. Di tengah kesunyian rumah itu, kehadiran tim seolah menjadi jawaban atas doa-doa yang selama ini tertahan di balik pintu yang tertutup rapat. Senin 4 mei 2026.

Kisah Mawar adalah potret kerentanan yang nyata. Sejak Januari 2026, bidan desa dan kader kesehatan terus memantau kondisinya yang kian mengkhawatirkan. Tanpa sosok ayah yang telah tiada, Mawar berjuang melawan penurunan kesehatan fisik dan perilaku yang drastis. Ia kehilangan nafsu makan, tubuhnya lemas, dan seringkali absen dari sekolah. Sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah tanpa pendampingan, terlarut dalam layar telepon genggam sebagai satu-satunya pelarian dari realitas yang pahit.

Kunjungan tim BAZNAS Sidoarjo kali ini bertepatan dengan kehadiran PJ Kepala Desa setempat di lokasi. Sinergi ini membuahkan hasil cepat; seluruh kebutuhan administrasi sebagai syarat pengajuan bantuan biaya pengobatan terselesaikan hari itu juga. Selain melakukan asesmen medis, BAZNAS juga mendistribusikan beras fidyah untuk memastikan kebutuhan gizi dasar keluarga ini terpenuhi. Perjuangan Mawar tidaklah mudah—ia sempat dilarikan ke RSUD Sidoarjo karena anemia dan tekanan darah rendah, hingga terakhir harus menggunakan kateter akibat retensi urin.

“Kami melihat langsung betapa berat beban yang dipikul keluarga-keluarga rentan ini. Bagi kami di BAZNAS, zakat bukan sekadar angka di atas kertas, tapi nafas kehidupan bagi mereka yang hampir menyerah. Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa Mawar dan anak-anak seperti dia tidak berjalan sendirian dalam menghadapi sakitnya,” ujar Ahmad Hamdani, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo dengan nada penuh empati.

Kisah Hafidz: Sang Kakak Pelindung

Perjalanan kemanusiaan hari itu berlanjut melintasi batas desa. Tim bergerak menuju Desa Masangan Kulon untuk menemui sosok tangguh lainnya, Hafidz. Di usianya yang ke-22, Hafidz yang merupakan penyandang tuna netra harus memikul beban raksasa. Ia kini menjadi tulang punggung bagi saudaranya yang masih kecil di sebuah rumah yang kondisinya memprihatinkan karena tak terurus. Meski hidup dalam keterbatasan pandangan, pundaknya begitu kokoh menyangga masa depan saudaranya yang masih sangat belia.

Tim BAZNAS menyalurkan bantuan biaya hidup untuk meringankan beban harian mereka, sekaligus melakukan asesmen untuk langkah intervensi selanjutnya. Sentuhan kepedulian ini hadir sebagai pengingat bahwa di antara sulitnya beban hidup, mereka tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Melalui gerakan “Zakat Menguatkan Indonesia”, BAZNAS Sidoarjo terus berkomitmen untuk hadir di garda terdepan. Dari pendampingan medis Mawar hingga jaminan hidup keluarga Hafidz, setiap rupiah zakat yang disalurkan adalah bukti bahwa kepedulian masyarakat Sidoarjo mampu menjadi benteng kokoh bagi mereka yang paling membutuhkan.

#ZakatMenguatkanIndonesia #BAZNASSidoarjo #FilantrophiEmpati #PeduliKelompokRentan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!