
SIDOARJO – Gerakan filantropi yang digerakkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo kembali menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam. Pada Rabu, 8 Juli 2026, tim BAZNAS Sidoarjo yang terdiri dari Hafidz dan M. Sofwan melakukan serangkaian aksi nyata di lapangan. Mereka menyambangi berbagai pelosok desa di Kabupaten Sidoarjo, mulai dari Jabon, Porong, hingga Tanggulangin, untuk menyalurkan bantuan bagi warga yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Kegiatan ini bukan sekadar distribusi materi, melainkan wujud nyata dari amanah zakat yang dikelola untuk menguatkan ketahanan sosial masyarakat. Sepanjang perjalanan menyusuri desa-desa, tim mendapati realitas kehidupan yang menyentuh hati. Mulai dari lansia yang hidup sebatang kara dan hanya menggantungkan hidup dari belas kasih tetangga, hingga para pejuang nafkah yang harus berjibaku dengan keterbatasan fisik dan ekonomi demi menyambung hidup setiap hari.
Di Desa Kali Sogo, Kecamatan Jabon, misalnya, tim menemui Ibu Romelah (69) dan Bapak Malikin (72). Keduanya merupakan potret lansia tangguh yang harus bertahan hidup seorang diri di usia senja. Kondisi serupa ditemukan di Desa Juwet Kenongo, Kecamatan Porong, di mana Bapak Sali (77) masih harus berjuang sebagai penarik becak bentor, serta Ibu Sumartik (60) yang mengandalkan tenaga sebagai buruh setrika untuk bertahan hidup. Sementara itu, di Desa Kludan, Tanggulangin, tim memberikan perhatian khusus kepada Bapak Kosim yang tengah berjuang melawan stroke.
Kehadiran BAZNAS dalam agenda ini membawa dimensi perubahan sosial yang lebih luas. Melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI), setiap bantuan yang disalurkan diproyeksikan tidak hanya meringankan beban sesaat, tetapi juga menciptakan dampak jangka panjang. Dukungan yang diberikan, baik berupa bantuan biaya hidup maupun alat bantu kesehatan, diharapkan mampu mengembalikan martabat penerima manfaat, menstabilkan kondisi rumah tangga yang rapuh, dan meningkatkan kualitas hidup mereka di tengah kesulitan yang mendera. Zakat yang tersalurkan dengan tepat sasaran mampu menciptakan efek domino kebaikan, di mana masyarakat rentan kini memiliki napas baru untuk bertahan dan menata masa depan dengan lebih baik.

Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menegaskan bahwa kehadiran tim di lapangan adalah bentuk komitmen untuk menjemput bola dalam memberikan pelayanan zakat yang inklusif.
“Kami tidak sekadar datang untuk menyerahkan bantuan, tetapi hadir untuk mendengarkan, merasakan, dan memastikan bahwa tidak ada saudara kita di Sidoarjo yang terabaikan. Setiap sen zakat yang Bapak/Ibu salurkan adalah harapan bagi mereka yang hampir putus asa. Melihat senyum penerima manfaat saat kami hadir, itulah nilai yang jauh lebih besar dari apa pun. Ini adalah tentang mengembalikan kehormatan dan memberikan secercah cahaya bagi mereka yang sedang berjuang,” ujar M. Sofwan di sela-sela kunjungannya.
Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini berhasil menyentuh keluarga-keluarga yang benar-benar membutuhkan, termasuk Ibu Supiyah di Desa Tulangan yang tinggal di hunian kurang layak. Sinergi antara BAZNAS Sidoarjo dengan pihak desa dan perangkat RT/RW setempat menjadi kunci efektivitas penyaluran ini. Kepercayaan masyarakat terhadap zakat yang dikelola secara transparan dan amanah menjadi motor penggerak utama.
Semangat “Zakat Menguatkan Indonesia” bukan sekadar slogan, melainkan napas dari setiap aksi di lapangan. BAZNAS Sidoarjo terus mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi, menjadikan zakat sebagai instrumen yang tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga memperkuat fondasi sosial masyarakat Sidoarjo agar lebih berdaya, mandiri, dan bermartabat.












