
SIDOARJO – Bayangkan jika kaki Anda, tumpuan utama untuk menafkahi keluarga, kehilangan fungsinya. Itulah realita pahit yang dihadapi Bapak Ahmad Shobirin (45). Terpisah dari istri dan dua buah hatinya, Bapak Shobirin tak lagi mampu bekerja. Hari-harinya hanya bisa dihabiskan dengan bergantung pada belas kasih saudara serta tetangga di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin. Namun, pada Selasa (23/6/2026), sebuah secercah cahaya harapan hadir melalui tangan hangat BAZNAS Kabupaten Sidoarjo.
Tim BAZNAS Sidoarjo, yang diwakili oleh Wakil Ketua III, Ach Saleh, bersama staf pelaksana Dani Prabowo, hadir membawa bantuan berupa alat kesehatan Knee-Ankle-Foot Orthosis (KAFO) brace. Alat ini bukan sekadar benda mati. KAFO adalah penyangga ortopedi kustom yang menutupi dan mengontrol seluruh kaki, dari paha hingga telapak kaki. Alat ini dirancang untuk memberikan stabilitas, mencegah lutut menekuk tiba-tiba, serta memampukan penderita kelemahan otot untuk berjalan lebih aman dan efisien.
Bagi Bapak Shobirin, bantuan ini adalah jembatan menuju kemandirian. Jika dilihat dari perspektif Social Return on Investment (SROI), pemberian alat ini menciptakan nilai sosial yang melampaui nominal harganya. BAZNAS tidak hanya sekadar memberikan alat, tetapi berupaya mengembalikan “fungsi hidup” penerimanya. Dengan kembali mampu berjalan, Bapak Shobirin berpotensi kembali produktif, mengurangi beban ketergantungan pada lingkungan sosialnya, dan memulihkan martabat dirinya sebagai kepala keluarga.
“Kami hadir bukan hanya untuk memberikan barang, tetapi untuk merajut kembali harapan yang sempat pudar. Zakat yang dikelola BAZNAS Sidoarjo adalah amanah umat yang kami salurkan untuk menguatkan mereka yang sedang berjuang melawan keterbatasan fisik agar bisa kembali berdaya,” ungkap Ach Saleh di sela-sela penyerahan bantuan.
Tidak berhenti di Desa Kalidawir, langkah filantropi BAZNAS Sidoarjo berlanjut pada hari yang sama. Tim juga mendistribusikan kursi roda kepada dua penerima manfaat lainnya di Kecamatan Tanggulangin: Ananda Putri Febbyan (putri dari Bapak Bambang Irawan) di Desa Kalitengah dan Ibu Miftahur Rohmah (26) di Desa Boro. Senyum keteguhan terpancar saat bantuan kursi roda diterima, memberikan mobilitas yang lebih baik bagi mereka untuk beraktivitas.

Aksi ini adalah bukti nyata bahwa zakat memiliki kekuatan luar biasa untuk menguatkan Indonesia, dimulai dari tingkat kabupaten. Melalui tangan-tangan yang peduli, BAZNAS Sidoarjo memastikan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menghentikan langkah seseorang untuk menata hidup kembali. Inilah esensi dari filantropi: menolong dengan empati, menguatkan dengan keberlanjutan.












