
SIDOARJO – Di sebuah sudut Desa Kalipecabean, Kecamatan Candi, tersembunyi sebuah kisah perjuangan yang mengiris hati. Di sanalah, Ibu Komsiyah (61), seorang janda tangguh, berjuang setiap hari menyambung hidup sebagai penjual sayur keliling. Di balik lelahnya, ia harus menghadapi kenyataan pahit: rumah yang ia tinggali bersama ketiga buah hatinya kini dalam kondisi yang jauh dari layak.
Atap rumahnya bukan sekadar bocor, melainkan sudah lapuk dan sebagian telah ambruk. Saat hujan turun, bukan ketenangan yang didapat, melainkan kecemasan akan banjir dan risiko atap yang kian keropos. Selain rumah yang memprihatinkan, beban hidup Ibu Komsiyah kian berat dengan terhambatnya pendidikan anaknya yang belum bisa menebus ijazah akibat tunggakan biaya sekolah.
“Isine niku Pak, nek jawah niku, kulo nangis, nangis batin,” tutur Ibu Komsiyah dengan nada bergetar saat tim BAZNAS Sidoarjo menyambangi kediamannya pada Rabu, 3 Juni 2026. Ketidakberdayaannya membendung air hujan dan harapan agar anaknya bisa menatap masa depan lebih cerah terlihat jelas di raut wajahnya.
Respons Cepat BAZNAS Sidoarjo
Merespons kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo segera bertindak. Kehadiran tim bukan sekadar untuk mendata, tetapi membawa harapan melalui intervensi program nyata. BAZNAS Sidoarjo memutuskan untuk memberikan dukungan komprehensif bagi keluarga Ibu Komsiyah.
Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar, atau yang akrab disapa Gus Jazuk, menegaskan komitmen lembaganya. “Kehadiran BAZNAS di sini adalah untuk memastikan bahwa tidak boleh ada warga Sidoarjo yang luput dari perhatian, apalagi mereka yang berjuang di tengah keterbatasan. Kami hadir membawa amanah dari para muzakki untuk memberikan kebermanfaatan langsung,” ungkap Gus Jazuk.

Sinergi dalam Aksi
Langkah cepat ini didukung oleh tim di lapangan. Ricky Prabu, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang terlibat langsung dalam proses assessment, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan bersifat menyeluruh agar keluarga Ibu Komsiyah dapat mandiri.
“Kami memberikan tiga intervensi sekaligus. Pertama, program Bedah Rumah untuk memperbaiki atap dan struktur rumah agar aman. Kedua, bantuan Modal Usaha untuk mendukung keberlanjutan usaha mlijo Ibu Komsiyah. Dan ketiga, penyelesaian tunggakan biaya sekolah agar ijazah anaknya dapat segera ditebus,” jelas Ricky Prabu.
Program ini merupakan manifestasi nyata bahwa zakat bukan sekadar ibadah ritual, melainkan instrumen sosial yang menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Melalui zakat, setiap rupiah yang disalurkan menjadi pelindung bagi mereka yang rentan, sekaligus jembatan menuju kemandirian.
Seiring dengan perbaikan rumah yang akan segera dimulai, Ibu Komsiyah kini memiliki harapan baru. Zakat telah menguatkan langkahnya, zakat menguatkan Indonesia.










