
Kehilangan sebelah kaki tidak pernah berarti kehilangan arah hidup. Di balik kerasnya jalanan Porong, Sidoarjo, tersimpan kisah keteguhan luar biasa dari dua sosok ayah yang menolak tunduk pada keterbatasan fisik demi menafkahi keluarga tercinta. Hari itu, Kamis, 5 November 2026, langkah tiga staf pelaksana BAZNAS Kabupaten Sidoarjo—Dani Prabowo, Mulyono, dan Mahendro—hadir membawa secercah harapan baru, mengubah langkah gontai menjadi pijakan kokoh penuh keyakinan.
Ketangguhan di Atas Roda Dua: Kisah Bapak Suwadi
Pukul 10.15 WIB, rombongan tiba di Desa Pesawahan RT 02 RW 01, Porong. Di sebuah rumah sederhana, mereka disambut senyuman hangat Bapak Suwadi bersama keluarga. Di usianya yang masih harus produktif, keterbatasan fisik akibat kehilangan satu kaki bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan.
Setiap hari, dengan berbekal sepeda motor modifikasi, Bapak Suwadi tetap gigih berkeliling menjajakan kerupuk rambak dan mlinjo. Keterbatasan fisik tidak sedikit pun melunturkan bara semangatnya untuk menjemput rezeki yang halal demi menafkahi keluarga tercinta. Namun, mobilitas yang terbatas tentu menyimpan lelah dan risiko tersendiri yang tidak ringan.
Melihat ketulusan dan etos kerja luar biasa tersebut, BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menetapkan tindak lanjut nyata berupa penyaluran bantuan kaki palsu mulai dari bagian paha. Bantuan ini dirancang bukan sekadar alat ganti tubuh, melainkan sebuah instrumen pemulih martabat—mengubah rasa lelah dalam mencari nafkah menjadi langkah yang lebih stabil, aman, dan produktif.

Menolak Menyerah pada Nasib: Keteguhan Bapak Sugianto
Perjalanan kemanusiaan ini berlanjut pada pukul 10.45 WIB menuju Desa Kedungboto RT 01 RW 01, Porong. Di sana, tim BAZNAS menemui Bapak Sugianto, seorang buruh harian lepas yang menggantungkan hidup dari keringatnya sendiri.
Penghasilannya sebagai buruh harian tentu tidak menentu, seringkali pasang surut mengikuti ketersediaan pekerjaan. Kendati demikian, Bapak Sugianto memiliki prinsip hidup yang mengagumkan: ia menolak untuk menjadi beban bagi orang lain. Dengan kekurangan fisiknya, ia terus bekerja keras dengan kepala tegak.
Hasil asesmen mendalam yang dilakukan tim lapangan menggerakkan BAZNAS untuk menghadirkan uluran tangan berupa bantuan kaki palsu mulai dari bagian lutut. Harapannya, alat bantu ini mampu meringankan beban fisik sekaligus melipatgandakan produktivitas kerjanya sehari-hari.
Makna di Balik Langkah: Investasi Kemanusiaan yang Mengubah Hidup
Aktivitas penyaluran yang dilakukan hari itu menyadarkan kita bahwa zakat, infak, dan sedekah memiliki dimensi dampak yang jauh melampaui bantuan material sesaat. Ketika seorang pencari nafkah yang sempat terbatas mobilitasnya kini dapat berdiri tegak dan kembali bekerja secara mandiri, terjadi transformasi multidimensional yang luar biasa pada kehidupannya.
Pendapatan keluarga berangsur-angsur pulih, rasa percaya diri bangkit kembali, ketergantungan kepada uluran tangan orang lain tereduksi, dan martabat serta kebahagiaan keluarga utuh kembali. Nilai kebaikan yang ditanamkan oleh para muzaki bertransformasi menjadi energi positif yang menggerakkan roda ekonomi keluarga dhuafa secara berkelanjutan.
“Kehadiran kami di Porong hari ini bukan sekadar mengantar sebuah alat medis, melainkan menyampaikan titipan amanah kemanusiaan untuk mengembalikan senyum dan kemandirian saudara-saudara kita. Melihat Bapak Suwadi dan Bapak Sugianto yang begitu tegar berjuang di tengah keterbatasan, kami di BAZNAS semakin yakin bahwa zakat adalah kekuatan transformatif yang nyata. Tugas kita adalah memastikan setiap rupiah dari muzaki benar-benar menjadi titik balik kebangkitan hidup mereka,” ungkap Dani Prabowo, Staf Pelaksana BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, di sela-sela kegiatan asesmen dan distribusi.
Zakat: Menolong Sesama di Dunia, Menyelamatkan Kita di Akhirat
Apa yang disaksikan di Porong hari itu adalah cerminan kecil dari luasnya samudera kebaikan zakat. Setiap butir harta yang ditunaikan oleh para muzaki tidak pernah mengurangi kekayaan, justru menyucikannya dan mengalirkan berkah yang tak terputus.
Melalui zakat, kita tidak hanya sedang membantu meringankan beban hidup sesama manusia di dunia agar mereka bisa kembali berdiri dan mandiri, tetapi kita juga sedang menanam investasi kebaikan abadi yang kelak akan menyelamatkan kita di hadapan Sang Pencipta di akhirat kelak.
Mari terus bergandengan tangan, memperkuat kepedulian, dan menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kabupaten Sidoarjo. Karena di setiap langkah kaki yang kembali berpijak, ada doa dan pahala yang terus mengalir untuk kita semua.












