
SIDOARJO – Dusun Tanggulrejo, Kelurahan Porong, kini menatap lembaran baru. Kawasan yang selama ini menjadi sorotan karena kerentanan sosial-ekonominya, hari ini (14/7) menjadi saksi nyata kolaborasi kemanusiaan yang komprehensif. Melalui inisiatif “Zakat Menguatkan Indonesia”, BAZNAS Kabupaten Sidoarjo bersama jajaran pemerintah daerah dan mitra strategis meresmikan pembangunan Musholla dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Falah sebagai pusat peradaban baru bagi warga setempat.
Acara peresmian ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan BAZNAS Sidoarjo, Camat Porong, Lurah Porong, serta kehadiran beberapa anggota DPRD Sidoarjo dari Komisi D. Bahkan secara khusussalah satu anggota DPRD, Pujiono, yang memberikan dukungan moril dengan menyerahkan bantuan dua kodi sarung kepada warga. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan komitmen kolektif untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem di wilayah yang dihuni oleh 93 Kepala Keluarga (KK) tersebut.
Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar, atau yang akrab disapa Gus Jazuk, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respon strategis atas data dari Komisi D DPRD mengenai kondisi warga yang berada di kelompok desil satu.
“Kawasan Tanggul Rejo menjadi sorotan khusus setelah kami menerima informasi mengenai kondisi sosial-ekonomi warganya. Kami tidak ingin sekadar memberi bantuan sesaat, tetapi membangun ekosistem yang berkelanjutan. Inilah esensi dari zakat, yakni menguatkan umat melalui pemberdayaan yang menyentuh aspek spiritual, pendidikan, hingga ekonomi,” ujar Gus Jazuk.
Pendekatan yang dilakukan BAZNAS kini bergeser pada perspektif Social Return on Investment (SROI). Artinya, setiap rupiah yang disalurkan dihitung berdasarkan dampak jangka panjang bagi kualitas hidup warga. Revitalisasi Musholla Al-Falah, yang didanai 70 persen oleh BAZNAS senilai Rp50 juta serta dukungan BSI Maslahat dan BMH, bukan sekadar renovasi fisik. Ini adalah investasi sosial untuk menciptakan ruang ibadah yang layak, yang diharapkan mampu mengembalikan fungsi musholla sebagai episentrum kegiatan kemasyarakatan.
Tak hanya itu, aspek pendidikan anak-anak di Tanggulrejo kini mendapat perhatian serius melalui pendirian TPQ yang sebelumnya tidak tersedia. Dengan bantuan sarana pendidikan senilai Rp12,5 juta dan insentif bulanan bagi pengajar, BAZNAS berupaya memastikan 92 anak di dusun tersebut mendapatkan akses pendidikan keagamaan yang layak.
Pada sektor ekonomi, pemberdayaan diarahkan melalui peternakan ayam petelur bagi 16 keluarga terpilih. Dipilihnya program ini didasari pertimbangan efisiensi dan kemudahan operasional yang mampu memberikan pendapatan harian bagi warga.
Gus Jazuk menambahkan, intervensi ini adalah kelanjutan dari rangkaian aksi BAZNAS yang sebelumnya telah menyalurkan bantuan dana tunai bulanan dan memfasilitasi akses perbankan bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai pemulung.

“Kami belajar dari pendampingan terhadap lansia rentan seperti Mbah Sudjalmo dan keluarga lainnya di sini. Bahwa kemiskinan ekstrem di Tanggulrejo memerlukan penanganan berlapis. BAZNAS hadir sebagai buffer atau penyangga, melengkapi program reguler pemerintah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” pungkasnya.
Dengan adanya fasilitas baru ini, diharapkan martabat kemanusiaan warga Tanggulrejo semakin terangkat. Sinergi antara pemerintah, lembaga amil, dan wakil rakyat ini adalah bukti bahwa ketika zakat dikelola dengan berbasis data dan dampak, ia mampu menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata, mengubah wajah kawasan dari “zona merah” menjadi komunitas yang berdaya dan mandiri.












