
SIDOARJO – Gerakan zakat bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan manifestasi dari upaya mengikat simpul-simpul solidaritas sosial di masyarakat. Meneguhkan komitmen tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo kembali menyalurkan amanah dari para muzaki dalam serangkaian aksi nyata di Kecamatan Candi. Melalui program pendayagunaan yang menyasar aspek pembangunan sarana ibadah hingga bantuan kesejahteraan individu, BAZNAS Sidoarjo terus bergerak memastikan bahwa zakat, infak, dan sedekah benar-benar menjadi katalis bagi perubahan kualitas hidup masyarakat.
Di Desa Nyamplung dan Desa Banjarpo, kehadiran BAZNAS Sidoarjo disambut hangat oleh warga yang sedang berikhtiar merampungkan pembangunan Musholla Al-Hidayah dan Musholla Al-Ikhlas. Bagi masyarakat setempat, musholla bukan sekadar bangunan fisik, melainkan titik sentral peradaban dan pendidikan karakter bagi generasi muda serta ruang temu bagi warga dalam mempererat tali silaturahmi.
Wakil Ketua I BAZNAS Sidoarjo, Luqman Hakiem, yang turun langsung mendampingi petugas lapangan Ust. Syukron, menekankan bahwa dukungan ini merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang.
“Pembangunan musholla yang kita dukung hari ini adalah langkah kolektif untuk merawat rumah peradaban. Ketika masyarakat memiliki tempat ibadah yang layak dan representatif, maka aktivitas keagamaan dan sosial akan jauh lebih dinamis. Ini adalah bentuk investasi sosial yang nilainya tidak hanya diukur dari material yang tersalurkan, tapi dari keberlanjutan fungsi spiritual dan sosial yang akan dirasakan jamaah selama bangunan itu berdiri,” ujar Luqman Hakiem di sela-sela kunjungannya.
Perspektif SROI (Social Return on Investment) menjadi napas utama dalam penyaluran ini. BAZNAS Sidoarjo menyadari bahwa setiap rupiah yang disalurkan memiliki dampak berlipat (multiplier effect). Dengan selesainya pembangunan sarana ibadah, diharapkan terjadi peningkatan partisipasi warga dalam kegiatan pemberdayaan komunitas di sekitarnya, yang pada akhirnya akan membentuk lingkungan yang lebih harmonis dan tangguh.
Selain fokus pada sarana publik, sisi humanis zakat juga menyentuh langsung denyut kehidupan warga. Di Desa Durung Bedug, BAZNAS Sidoarjo memberikan uluran tangan untuk biaya hidup bagi Moh. Angga, serta dukungan pengobatan bagi Nurul Hidayati. Kehadiran tim BAZNAS di tengah kondisi yang menantang bagi warga tersebut adalah bentuk nyata kehadiran negara melalui tangan para dermawan.
Bagi Luqman Hakiem, menyentuh individu yang sedang dalam kesulitan adalah prioritas utama untuk menjaga martabat mustahik. “Melihat warga kita yang sedang berjuang dengan kesehatan maupun pemenuhan hidup dasar, itu adalah pengingat bagi kita semua. Kami hadir bukan sekadar memberikan bantuan, namun berusaha mereduksi beban agar mereka memiliki daya untuk bangkit kembali. Inilah inti dari filantropi Islam; bagaimana zakat mampu mengubah ketidakberdayaan menjadi kemandirian,” tambahnya.

Seluruh rangkaian aksi di Kecamatan Candi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara amil, muzaki, dan penerima manfaat adalah kunci dari keberhasilan zakat dalam menguatkan sendi-sendi masyarakat. BAZNAS Sidoarjo terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus konsisten dalam berderma. Sebab, setiap tetes zakat yang ditunaikan memiliki kekuatan besar untuk merajut harapan, memperbaiki kualitas sarana sosial, dan pada akhirnya, benar-benar menjadi instrumen nyata yang menguatkan Indonesia.
Dengan semangat berbagi manfaat dan meraih maslahat, BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk terus menjangkau mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa tidak ada lagi simpul sosial yang tertinggal dalam gerak pembangunan bangsa.












