
Di bawah langit Sidoarjo yang cerah pada Kamis, 9 Juli 2026, sebuah kebahagiaan sederhana namun mendalam hadir di Desa Gagangpanjang, Kecamatan Tanggulangin. Hari itu bukan sekadar hari biasa bagi keluarga Bapak Achmad Mashuri dan Ibu Sri Wahyuni. Di rumah sederhana mereka, sebuah tawa lepas pecah—tawa yang telah lama dirindukan—saat kursi roda baru tiba untuk putra kedua mereka, Ananda Kurniawan Dwi Andhika.
Kurniawan, atau yang akrab disapa Dhika, kini menginjak usia 14 tahun. Namun, perjalanan hidupnya tidak seperti remaja seusianya. Sejak usia tiga tahun, Ananda Dhika harus berdamai dengan kondisi fisik yang membuatnya tidak bisa berjalan dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Selama sebelas tahun, keterbatasan ini menjadi ujian berat bagi keluarga.
Bagi orang tua, melihat anaknya tidak berdaya adalah perjuangan batin yang tak terukur. Selama bertahun-tahun, mobilitas Dhika sangat terbatas. Untuk sekadar beraktivitas di dalam rumah atau merasakan segarnya udara di luar, orang tuanya harus menggendong atau membopongnya. Dalam kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, kebutuhan akan alat bantu kursi roda menjadi barang mewah yang sulit dijangkau. Saking mendesaknya kebutuhan tersebut, orang tua Dhika bahkan sempat harus meminjam kepada tetangga demi meringankan beban mobilitas putra tercinta mereka.
Mendengar kondisi tersebut, BAZNAS Kabupaten Sidoarjo segera merespons dengan cepat. Tim BAZNAS yang dipimpin oleh Wakil Ketua III, Achmad Saleh, didampingi staf pelaksana Ricky Prabu, hadir langsung di kediaman Ananda Dhika untuk menyerahkan bantuan kursi roda.
Saat kursi roda biru itu diserahterimakan, raut wajah Dhika yang berseri-seri menjadi potret paling jujur dari sebuah kelegaan. Kursi roda ini bukan sekadar alat bantu fisik, melainkan jembatan menuju kemandirian yang lebih baik bagi Dhika.
Dalam perspektif filantropi, bantuan ini membawa dampak sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai nominal barang. Dengan tersedianya alat bantu mobilitas, beban fisik yang selama ini dipikul oleh Bapak Achmad dan Ibu Sri Wahyuni berkurang drastis. Efisiensi energi keluarga dalam mengasuh putra mereka kini dapat dialihkan untuk produktivitas lain atau sekadar meningkatkan kualitas pengasuhan yang lebih tenang. Secara tidak langsung, kemandirian Dhika yang perlahan tumbuh akan memperbaiki kesehatan mental keluarga secara keseluruhan, memutus siklus utang piutang yang sebelumnya dilakukan demi kebutuhan dasar, serta meningkatkan martabat keluarga di tengah lingkungan sosialnya.
Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, Achmad Saleh, dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen BAZNAS untuk terus hadir bagi mereka yang paling membutuhkan.
“Apa yang kami berikan hari ini, kursi roda untuk Ananda Dhika, adalah bentuk nyata dari amanah para muzakki. Kami ingin memastikan bahwa setiap tetes zakat yang ditunaikan mampu menyentuh persoalan paling mendasar di masyarakat. Kebahagiaan Dhika dan ketenangan orang tuanya adalah tolok ukur kesuksesan kami dalam menebar manfaat. Semoga ini menjadi penyemangat bagi kita semua bahwa zakat bukan sekadar angka, melainkan kekuatan untuk menguatkan Indonesia, mulai dari hal-hal kecil di lingkungan terdekat kita,” ujar Achmad Saleh.

Kehadiran BAZNAS di Gagangpanjang hari itu sekali lagi menjadi bukti bahwa filantropi yang dikelola dengan empati mampu melampaui sekadar pemberian bantuan materi. Ia adalah tentang membangun harapan, merajut senyum, dan meneguhkan keyakinan bahwa tidak ada satu pun warga yang berjuang sendirian.
Zakat benar-benar telah menguatkan Indonesia, satu kursi roda, satu keluarga, dan satu senyuman pada satu waktu.












