BeritaHeadline

Menyeka Air Mata di Balik Terik Bringinbendo: BAZNAS Sidoarjo Hadir untuk Keluarga Pak Suparman

12
×

Menyeka Air Mata di Balik Terik Bringinbendo: BAZNAS Sidoarjo Hadir untuk Keluarga Pak Suparman

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Senin pagi (04/05/2026), matahari di Desa Bringinbendo, Kecamatan Taman, mulai memanjat langit. Di sebuah hunian sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup, tampak raut lelah yang perlahan berganti haru. Hari itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo kembali bergerak dalam senyap, menyusuri gang-gang desa untuk memastikan bahwa kelompok rentan tidak berjuang sendirian.

Fokus bantuan kali ini tertuju pada kediaman Bapak Suparman. Di usianya yang telah menginjak 69 tahun—usia yang seharusnya dihabiskan dengan tenang di masa tua—ia masih harus bergulat dengan kerasnya tanah sebagai buruh tani. Namun, keterbatasan fisik dan usia yang senja membuat pundaknya tak lagi sekuat dulu. Ekonomi keluarga pun seringkali berada di titik nadir.

Ketua BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar, atau yang akrab disapa Gus Jazuk, turun langsung memimpin pendistribusian bantuan biaya hidup ini. Didampingi oleh staf pelaksana Ricky Prabu, kehadiran tim BAZNAS disambut hangat oleh istri Pak Suparman, perangkat desa, serta ketua RT setempat.

“Kami datang bukan sekadar membawa materi, tapi membawa amanah dari para muzakki (pembayar zakat) di Sidoarjo. Ini adalah bentuk cinta dan kepedulian sesama warga untuk memastikan Pak Suparman dan keluarga bisa sedikit bernapas lega,” ujar Gus Jazuk dengan nada rendah penuh empati saat berdialog di ruang tamu keluarga tersebut.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, bantuan biaya hidup diserahkan langsung kepada istri Pak Suparman. Air muka sang istri tak mampu menyembunyikan rasa syukur yang mendalam. Baginya, bantuan ini lebih dari sekadar lembaran rupiah; ini adalah penyambung asa untuk kebutuhan dapur dan kesehatan di tengah sulitnya mencari penghasilan dari buruh tani yang tidak menentu.

Gus Jazuk menegaskan bahwa program bantuan untuk kelompok rentan seperti Pak Suparman merupakan prioritas utama BAZNAS Sidoarjo. Buruh tani lansia adalah pahlawan pangan yang seringkali terlupakan saat mereka sendiri kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.

“Melihat kondisi beliau, BAZNAS harus hadir. Kita ingin memastikan bahwa di Sidoarjo, tidak boleh ada orang tua yang merasa ditinggalkan oleh lingkungannya. Inilah hakikat dari zakat yang dikelola dengan amanah: ia menjadi jaring pengaman sosial yang paling tulus,” tambah Gus Jazuk.

Kehadiran perangkat desa dan Ketua RT dalam pendampingan ini juga menjadi bukti sinergi yang kuat antara lembaga filantropi dan aparatur tingkat bawah. Validasi data yang tepat memastikan bantuan jatuh ke tangan yang benar-benar membutuhkan (mustahik).

Perjalanan di Bringinbendo hari itu ditutup dengan doa bersama. Ada harapan besar yang tersampir di pundak BAZNAS untuk terus meluaskan manfaat. Melalui program-program kemanusiaan yang konsisten, BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk terus memuliakan para lansia dan kaum dhuafa.

Karena pada setiap rupiah zakat yang ditunaikan, ada senyum kemandirian yang mulai tumbuh, dan ada beban hidup yang perlahan menjadi ringan. Dari Sidoarjo untuk umat, zakat terbukti menjadi pilar yang kokoh.

Zakat Menguatkan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!