
Langkah kaki Mulyono bersama tim pelaksana Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo menyusuri lorong-lorong perkampungan padat di Kecamatan Waru pada hari Kamis, 22 Oktober 2026, bukan sekadar perjalanan dinas biasa. Pukul 10.00 hingga 11.00 WIB pagi itu, misi kemanusiaan yang diemban membawa angin segar bagi warga yang tengah diuji kesabarannya. Zakat menolong sesama di dunia, selamatkan kita di akhirat—sebuah prinsip luhur yang terus dihidupkan melalui kerja nyata di lapangan, merajut asa mereka yang nyaris putus harapan.
Di Desa Bungurasih RT 4/RW 1, rumah sederhana milik Ibu Sumiati (67) menjadi saksi bisu betapa beratnya roda kehidupan berputar. Sudah genap satu tahun terakhir, wanita paruh baya ini hanya bisa terbaring lemah akibat serangan stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya. Sementara itu, sang suami tetap harus membanting tulang keluar masuk kampung menjajakan tempe keliling demi menyambung hidup. Keterbatasan fisik dan ekonomi seolah mengunci ruang gerak keluarga kecil ini.
Namun, kehadiran tim BAZNAS Sidoarjo yang digawangi Dani Pratama, Sofwan, dan Mulyono mengubah keheningan menjadi keharusan untuk tersenyum kembali. Sebuah kursi roda bantuan diserahkan langsung untuk meringankan beban harian Ibu Sumiati. Tak hanya sekadar alat bantu medis, kursi roda ini membuka kembali jendela mobilitas yang telah lama tertutup, memulihkan martabat kemanusiaan, serta memberikan nilai manfaat jangka panjang yang mengubah kualitas hidup seluruh anggota keluarga secara signifikan.
“Zakat dan infak yang dititipkan masyarakat kepada BAZNAS Sidoarjo adalah amanah besar untuk menghadirkan keadilan sosial dan senyuman di tengah warga yang paling membutuhkan. Apa yang kita salurkan hari ini, baik kursi roda untuk Ibu Sumiati di Bungurasih maupun bantuan biaya hidup di Wadungasri, adalah wujud nyata kehadiran uluran tangan para dermawan agar duka mereka berangsur berganti menjadi kekuatan hidup,” ungkap Mulyono, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, dengan nada penuh kehangatan dan empati mendalam di sela-sela penyerahan bantuan.
Perjalanan kemanusiaan hari itu berlanjut ke titik kedua di Desa Wadungasri, Kecamatan Waru. Di sana, uluran tangan kemandirian disalurkan kepada Ibu Siti Halima yang tengah berjuang melawan sakit. Mengingat kondisinya yang belum memungkinkan untuk menerima kunjungan langsung secara leluasa, proses penyerahan bantuan biaya hidup senilai Rp500.000 dilakukan secara sinergis di kantor desa yang diambil oleh Pengurus RT setempat dengan didampingi oleh perangkat desa.

Sinergi birokrasi dan lembaga filantropi ini memastikan bahwa setiap butir dana umat tepat sasaran, transparan, dan memberikan dampak sosial yang terukur. Pendekatan penyaluran yang menyentuh langsung akar masalah ini tidak sekadar meringankan beban finansial sesaat, melainkan mengembalikan ketahanan hidup para penerima manfaat agar kembali berdaya di tengah himpitan zaman.
Melalui aksi nyata ini, BAZNAS Sidoarjo terus membuktikan bahwa zakat bukan sekadar angka atau kewajiban ritual semata, melainkan instrumen Ilahi yang menyelamatkan kehidupan di dunia dan menjadi tiket penyelamatan di akhirat kelak. Setiap rupiah yang disalurkan menjelma menjadi energi kebaikan, merawat asa warga Sidoarjo agar tetap tegar melangkah di atas jalan ridha-Nya.












