
SIDOARJO – Jejak Kebaikan kembali terukir di sudut-sudut Kabupaten Sidoarjo pada Kamis cerah, 11 Desember 2025. Tidak sekadar menunaikan kewajiban administratif, hari ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian tidak mengenal jarak dan lelah. Di bawah komando langsung Wakil Ketua BAZNAS Sidoarjo, Em Luqman Hakiem, tim yang terdiri dari staf pelaksana M. Hafidz dan Rita Defani bergerak menyusuri desa demi desa. Misi mereka satu: memastikan amanah para muzakki sampai tepat ke tangan mereka yang paling membutuhkan melalui program Bantuan Biaya Hidup.
Perjalanan kemanusiaan ini membuka mata hati ketika tim tiba di Desa Modong, RT 2 RW 1. Di sebuah rumah sederhana, hidup dua wanita tangguh yang saling menopang. Adalah Ibu Hartini, sosok wanita berusia 56 tahun yang memilih untuk tidak menikah demi berbakti sepenuhnya merawat sang ibunda, Ibu Riana, yang kini telah renta di usia 73 tahun. Di tengah keterbatasan fisik dan usia, mereka hidup berdua, berbagi sunyi dan harapan.
Kedatangan tim BAZNAS Sidoarjo disambut dengan mata berkaca-kaca. Amplop santunan yang diserahkan Em Luqman Hakiem bukan sekadar bantuan finansial, melainkan sebuah pelukan hangat dari masyarakat Sidoarjo bahwa Ibu Hartini dan ibunya tidak berjuang sendirian. Momen tersebut menjadi pengingat bagi kita semua tentang mulianya pengabdian seorang anak kepada orang tuanya.
Semangat tim kembali diuji ketika hendak menyalurkan bantuan kepada Ibu Rosida dan Ibu Ridha Bilgis. Alamat yang tertera di Ngampelsari ternyata sudah kosong. Namun, pantang bagi amil untuk pulang sebelum amanah tertunaikan. Setelah melakukan penelusuran informasi, tim akhirnya berhasil menemukan tempat tinggal baru mereka di kawasan Kalipecabean. Senyum lega yang merekah di wajah kedua ibu tersebut seolah menghapus peluh tim yang mencari keberadaan mereka. Kegigihan ini membuktikan bahwa BAZNAS Sidoarjo tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi turun langsung memastikan data dan fakta di lapangan.

Roda kebaikan terus berputar menyapa warga lainnya. Di Desa Pangkemiri, tim bersilaturahmi dengan Ibu Sulyah, kemudian berlanjut ke Desa Sepande untuk menyerahkan hak Bapak Dul Wahab. Perjalanan kemudian mengarah ke Kecamatan Candi. Di Desa Larangan, bantuan untuk Bapak Sentot diterima dengan penuh hormat oleh putranya, mewakili sang ayah. Estafet kebaikan hari ini pun ditutup di Wedoroklurak, Candi, di kediaman Ibu Arniyah yang menyambut tim dengan doa-doa tulus.
Em Luqman Hakiem, di sela-sela kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan hari ini adalah cerminan dari kepercayaan masyarakat. “Setiap rupiah yang dititipkan melalui BAZNAS adalah nyawa bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Melihat senyum Ibu Hartini dan para mustahik lainnya hari ini, kita sadar bahwa zakat benar-benar mampu memberdayakan dan membahagiakan,” ujarnya.
Hari kian sore ketika tim BAZNAS Sidoarjo kembali. Meski fisik terasa lelah, namun hati terasa penuh. wajah-wajah teduh para lansia dan senyum tulus penerima manfaat,menjadi saksi bisu bahwa Sidoarjo adalah kota yang penuh welas asih. Jejak kebaikan ini tidak berhenti di sini; ia akan terus memanjang, mengetuk pintu-pintu rumah lain yang masih menanti uluran tangan kita bersama.












