
Sidoarjo, 09/12/2025 | Ketika banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatera Utara (Sumut), tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) segera bergerak. Di garis depan operasi penyelamatan dan kedaruratan, hadir Taufiq Hidayat, Komandan Respon BTB, yang membawa bekal pengalaman luar biasa dari palagan bencana internasional.
Taufiq tidak sekadar merespon dengan teori. Dalam ransel pengalamannya, ia menyimpan pelajaran berharga dari berbagai krisis kemanusiaan global:
- Gempa Bumi: Dari gempa Myanmar hingga gempa dahsyat Turki-Suriah.
- Krisis Kemanusiaan: Penanganan krisis pengungsi Rohingya di Bangladesh.
- Misi Khusus: Bantuan kemanusiaan untuk Palestina via Mesir.
- Tugas Nasional: Pengalaman berat memimpin pemulasaraan jenazah COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.
Pengalaman-pengalaman ini telah membentuknya menjadi pemimpin lapangan yang tangguh, strategis, dan penuh empati.
Strategi Global di Pelosok Negeri
Saat tiba di Tapanuli Tengah), Taufiq segera memimpin timnya—yang terdiri dari Sukamto, Septo P, dan personel lokal—menempuh perjalanan sulit. Akses jalan dan jembatan yang terputus tidak menyurutkan langkah mereka.
“Setiap bencana punya tantangan unik. Tapi, prinsip inti respon darurat universal tetap sama: ketepatan, kecepatan, dan empati,” ujar Taufiq, sambil mengawasi distribusi ratusan porsi makanan panas di Dapur Umum BAZNAS RI.
Prinsip utama dari respon internasional yang ia terapkan adalah needs assessment yang cepat dan adaptif. Setelah identifikasi, tiga titik kritis segera ditangani:
- Logistik Makanan: Pendirian dapur umum darurat.
- Air Bersih: Penyiapan pasokan air bersih.
- Komunikasi: Solusi untuk masalah koneksi.
“Di sini, kami segera identifikasi titik kritis: logistik makanan dan air bersih, lalu komunikasi,” jelasnya.

Dapur Umum BAZNAS: Jantung Logistik Pengungsi
Respon cepat BAZNAS diwujudkan melalui pendirian dapur-dapur umum dengan kapasitas besar. Di Desa Tandihat, Tapanuli Selatan, Dapur Umum di PTPN 5 Simarpinggan mampu memproduksi 1.950 bungkus makanan per hari untuk 630 jiwa pengungsi. Sementara itu, Dapur Umum di Masjid An-Nursina, Tapanuli Tengah, menyiapkan 600 bungkus per produksi. Operasi ini berjalan dengan disiplin tinggi, membagi tugas antara tim belanja bahan di Pasar Sibolga, tim memasak, dan tim distribusi.
Mengatasi Blackout Komunikasi dengan Solusi Cerdas
Tantangan terberat di lokasi bencana Sumut adalah blackout komunikasi total, kendala yang sering ia jumpai di zona konflik internasional. Berbekal pengalaman ini, Taufiq langsung menginisiasi solusi teknologi.
“Koneksi adalah urat nadi koordinasi. Di Turki atau di kamp pengungsi, kami juga bergantung pada solusi alternatif saat infrastruktur hancur,” paparnya.
Solusinya: mendatangkan perangkat internet satelit Starlink dari Jakarta. Langkah strategis ini memastikan koordinasi antar tim dan pelaporan berjalan lancar, independen dari infrastruktur BTS yang rusak. Selain itu, masalah pasokan listrik untuk genset diatasi dengan perencanaan logistik bahan bakar yang matang, meskipun harus berjuang dengan antrean di SPBU.
Amil Berotot Kawat, Berhati Qurani
Jiwa kepemimpinan Taufiq tidak hanya dibentuk oleh pengalaman di luar negeri. Ia adalah salah satu dari 500 ‘zakat warrior’ BAZNAS yang ditempa melalui Diklat Bela Negara di Rindam Jaya, Jakarta. Program ini menyatukan disiplin spiritual pesantren dengan disiplin kebangsaan ala militer.
“Diklat itu adalah dialektika. Ia mengkristalkan mental kami sebagai amil yang tidak hanya shalih secara individu, tetapi juga mushlih (reformis) secara sosial, siap bertarung melawan ‘musuh’ berupa kemiskinan dan penderitaan,” tegas Taufiq.
Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., kerap menekankan pentingnya membangun amil yang tangguh mental dan fisik. Taufiq adalah personifikasi dari visi ini: perpaduan pelatihan karakter ala bela negara dan jam terbang internasional menjadikannya pemimpin lapangan yang strategis dan berintegritas.
Kisah perjuangan Taufiq Hidayat di Sumatera Utara adalah bukti nyata. Ilmu dan pengalaman dari gempa Turki hingga krisis Rohingya kini diterjemahkan secara konkret untuk menolong saudara sebangsa di Tapanuli. Dari garis depan kemanusiaan global hingga pelosok bencana di Indonesia, Taufiq dan para ‘zakat warrior’ BAZNAS terus menuliskan kisah heroisme baru: patriotisme yang diwujudkan dengan aksi nyata menolong sesama, kapan pun dan di mana pun.












