BeritaHeadline

BAZNAS Sidoarjo Alirkan Kehidupan dan Harapan di Desa Riseh Teungah

23
×

BAZNAS Sidoarjo Alirkan Kehidupan dan Harapan di Desa Riseh Teungah

Sebarkan artikel ini

Sidoarjo – Gema pemulihan pasca-bencana mulai terdengar di sela-sela puing sisa banjir bandang Desa Riseh Teungah, Kecamatan Sawang. Tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo melakukan pemantauan langsung terhadap proyek infrastruktur vital dan koordinasi spiritual di tengah warga yang masih berjuang bangkit dari trauma kehilangan rumah dan harta benda.

Laporan lapangan mengonfirmasi bahwa 50 rumah warga hanyut tersapu arus, memaksa mereka direlokasi ke dataran yang lebih tinggi di area persawahan. Di tengah kondisi darurat ini, BAZNAS Sidoarjo hadir memberikan jawaban atas kebutuhan paling mendasar: air bersih. Hingga Sabtu (7/2), pembuatan sumur dan instalasi air bersih telah rampung dan kini sudah dapat dimanfaatkan oleh warga di lokasi relokasi.

“Air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Dengan selesainya sumur ini, kami ingin memastikan martabat warga tetap terjaga meskipun tinggal di hunian sementara,” ujar salah satu anggota Tim BAZNAS Sidoarjo saat meninjau aliran air di lokasi. Selain air bersih, fokus utama hari ini adalah percepatan pembangunan kembali pusat peribadatan yang hilang.

Masjid At-Taqarrub, masjid kebanggaan desa yang hilang ditelan banjir, kini mulai menampakkan harapan baru. Di atas tanah wakaf seluas 300 meter, proses pengurukan tanah untuk bangunan masjid berukuran10x13 meter terus digenjot melalui kerja sama erat antara BAZNAS dan swadaya masyarakat. Monitoring hari ini memastikan bahwa fondasi yang diletakkan cukup kuat untuk menopang struktur bangunan di masa depan.

Tak hanya soal fisik, dimensi spiritual menjadi perhatian utama. Tim bersama Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan panitia pembangunan melakukan koordinasi matang terkait rencana kegiatan buka puasa Ramadhan mendatang. Diskusi ini menjadi oase di tengah duka, memberikan kepastian bagi warga bahwa mereka tidak akan menjalankan ibadah di bulan suci nanti dalam kesendirian.

Kegiatan monitoring ini ditutup dengan dialog bersama warga terdampak yang kini mulai merajut asa di area Huntara (Hunian Sementara). Kehadiran relawan dan tim dari Sidoarjo menjadi bukti nyata bahwa sekat geografis tidak menjadi penghalang bagi rasa kemanusiaan. Langkah demi langkah, Desa Riseh Teungah mulai membasuh luka, bergerak dari nestapa menuju pemulihan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!