OPINI

Cinta dalam Setiap Suapan: Makan Bergizi Gratis Berbasis Zakat

418
×

Cinta dalam Setiap Suapan: Makan Bergizi Gratis Berbasis Zakat

Sebarkan artikel ini

Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan hanya sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga merupakan ungkapan cinta, kepedulian, dan makna yang lebih dalam. Bagi banyak orang, memenuhi kebutuhan makanan adalah hal yang mudah. Namun, bagi sebagian lainnya, akses terhadap makanan bergizi masih menjadi tantangan yang sulit dihadapi. Di sinilah peran zakat sebagai salah satu pilar dalam Islam menjadi sangat relevan—sebagai jembatan cinta yang dapat mewujudkan keadilan sosial, terutama dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat yang kurang beruntung.

 

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist, seorang Muslim dianjurkan untuk memberikan sesuatu yang ia cintai, termasuk makanan bergizi, kepada saudaranya yang membutuhkan. Dalam sabdanya, Rasulullah SAW mengingatkan kita:

 

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia lain sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi)

 

Zakat: Lebih dari Sekadar Kewajiban

 

Zakat bukan hanya kewajiban bagi umat Muslim yang mampu, tetapi juga merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk menyediakan makanan bergizi bagi mereka yang kurang beruntung. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

 

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

 

Melalui zakat, kita dapat mendukung program-program yang fokus pada pemberian makanan sehat kepada kelompok rentan, seperti anak-anak yang mengalami malnutrisi, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga manifestasi nyata dari cinta dalam setiap suapan makanan yang diterima oleh mereka yang membutuhkan.

 

Makan Bergizi sebagai Hak Asasi

 

Akses terhadap makanan bergizi adalah hak asasi manusia yang mendasar. Namun, kenyataannya, masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan gizi akibat kemiskinan dan ketimpangan sosial. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa malnutrisi merupakan salah satu tantangan terbesar di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

 

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka stunting dan malnutrisi masih menjadi perhatian utama. Banyak keluarga, baik di pedesaan maupun perkotaan, tidak memiliki akses terhadap makanan sehat dan bergizi. Keterbatasan ekonomi sering kali menjadi penghalang bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan gizi harian.

 

Kondisi ini juga berdampak pada siswa SD dan SMP yang memerlukan asupan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif mereka. Tanpa makanan bergizi, anak-anak ini tidak hanya berisiko mengalami masalah kesehatan, tetapi juga kesulitan dalam mencapai potensi belajar mereka.

 

Di sinilah peran zakat menjadi sangat penting. Dengan mengarahkan dana zakat untuk mendukung program penyediaan makanan bergizi bagi siswa, kita dapat membantu mengatasi masalah malnutrisi sekaligus mendukung pendidikan generasi muda. Makanan bergizi berkontribusi pada penciptaan generasi yang sehat dan produktif, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kemajuan bangsa.

 

Program Zakat untuk Makan Bergizi Gratis

 

Di tengah perdebatan mengenai penggunaan dana zakat untuk program makan bergizi gratis, Ketua Baznas, Noor Achmad, menegaskan bahwa penyaluran manfaat atau dana zakat harus memenuhi prinsip syar’i, regulasi, dan keamanan NKRI. Dalam konteks zakat, umat Islam dapat memanfaatkannya untuk menyediakan makanan bergizi bagi fakir miskin. Sejarah mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab memanfaatkan baitul mal (termasuk dana zakat) untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat miskin terpenuhi.

 

Menghidupkan Semangat Berbagi

 

Dalam ajaran Islam, setiap harta yang kita miliki mengandung hak orang lain. Ketika kita berbagi melalui zakat, sedekah, atau wakaf, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan material mereka, tetapi juga menyentuh hati mereka dengan cinta dan perhatian. Suapan makanan bergizi yang mereka terima bukan hanya memenuhi perut, tetapi juga memberikan harapan, kebahagiaan, dan semangat hidup baru.

 

Zakat, dalam konteks ini, lebih dari sekadar transfer kekayaan; ia adalah sarana untuk membangun hubungan emosional antara pemberi dan penerima, memperkuat rasa persaudaraan, dan menciptakan harmoni sosial.

 

Kesimpulan

 

Cinta dalam setiap suapan bukanlah sekadar ungkapan puitis, tetapi merupakan wujud nyata dari kepedulian sosial yang diwujudkan melalui zakat. Dengan mengarahkan dana zakat untuk mendukung program makanan bergizi, kita tidak hanya membantu mengurangi kemiskinan dan kelaparan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih sehat, kuat, dan penuh harapan. Inilah bentuk cinta sejati yang menyatu dalam setiap suapan makanan bergizi: cinta yang menyambung hati, menguatkan tubuh, dan menghidupkan jiwa.

 

Penulis

Nama: Abdul Goni

NIM: 24050570007

Program Studi: Manajemen Zakat dan Wakaf

Universitas: Muhammadiyah Jakarta

Opini Tidak mewakili Pandangan Institusi , Karya Tulis merupakan Tanggung Jawab Penuh penulis

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!