
SIDOARJO – Langit Januari 2026 di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, sempat menyisakan pilu bagi Ibu Satupa. Di usianya yang menginjak 63 tahun, janda lanjut usia ini harus berjibaku dengan kenyataan pahit: rumah yang menjadi tempat berteduh bersama anaknya tak lagi mampu melindungi mereka. Selama dua tahun terakhir, atap rumahnya keropos dimakan usia, bahkan sebagian besar sudah ambruk.
Setiap kali mendung menggelayut, detak jantung Ibu Satupa berpacu lebih kencang. Baginya, hujan bukan lagi berkah, melainkan ancaman. Di dalam rumah, bak-bak plastik dan ember berserakan di setiap sudut, menjadi saksi bisu upaya mereka menampung air yang menerobos masuk dari langit-langit yang menganga.
“Kalau hujan turun, kami tidak bisa tidur tenang. Air masuk dari mana-mana, lantai jadi licin, dan dinginnya menusuk tulang. Saya hanya bisa berdoa, semoga rumah ini tidak benar-benar roboh saat kami di dalam,” kenang Ibu Satupa saat tim survey BAZNAS Sidoarjo datang mengunjungi kediamannya pada Selasa, 6 Januari 2026 lalu.
Zakat Menguatkan Indonesia: Mengubah Puing Menjadi Asa
Melalui semangat brand campaign “Zakat Menguatkan Indonesia”, BAZNAS Sidoarjo bergerak cepat. Program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) menjadi jawaban atas doa-doa panjang Ibu Satupa di sela sujudnya. Proses renovasi total pun dilakukan sepanjang bulan Januari untuk memastikan hunian ini layak sebelum bulan suci tiba.
Tepat pada Jumat, 13 Februari 2026, suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti monitoring akhir program RLHB. Rumah yang dulunya penuh tambalan dan ember penampung air, kini telah bertransformasi menjadi hunian permanen yang kokoh dengan cat hijau segar yang memberikan kesan ketenangan.
Ahmad Richi, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menyatakan bahwa kecepatan pengerjaan ini merupakan bagian dari komitmen layanan mustahik. “Kami ingin memastikan bahwa Ibu Satupa tidak lagi merasa was-was. Program RLHB ini adalah bukti nyata bahwa dana zakat, infak, dan sedekah dari para muzakki benar-benar menguatkan fondasi kehidupan warga yang membutuhkan,” ujarnya di sela-sela monitoring.

Ramadhan Tangguh dan Lebaran Penuh Makna
Perubahan fisik bangunan ini membawa dampak psikologis yang luar biasa bagi keluarga Ibu Satupa, terutama menjelang bulan suci. Dengan kondisi rumah yang baru, Ibu Satupa kini menatap Ramadhan 1447 H dengan semangat “Ramadhan Tangguh”. Tidak ada lagi kekhawatiran saat menjalankan ibadah tarawih atau menyiapkan sahur di tengah hujan lebat.
“Alhamdulillah, Ya Allah. Saya tidak menyangka bisa punya rumah sebagus ini di hari tua. Sebentar lagi bulan puasa, lalu Lebaran. Tahun ini benar-benar berbeda. Saya bisa beribadah dengan tenang, tidak perlu lagi lari-lari memindahkan ember kalau hujan. Ini hadiah terbaik untuk saya dan anak saya,” ungkap Ibu Satupa dengan mata berkaca-kaca sambil memegang map penyerahan bantuan.
Kebahagiaan ini menjadi potret keberhasilan sinergi filantropi Islam. Bagi Ibu Satupa, rumah baru ini bukan sekadar bangunan bata dan semen, melainkan martabat dan kenyamanan yang sempat hilang.
“Target kami memang agar penerima manfaat bisa menjalankan Ramadhan dengan khusyuk. Kami ingin Ibu Satupa merasakan ‘Ramadhan Tangguh’ di hunian yang aman. Melihat senyum beliau saat memegang kunci rumah adalah kebahagiaan tak ternilai bagi kami di BAZNAS Sidoarjo,” tutup Ahmad Richi.
Kini, di Banjarkemantren, sebuah rumah berdiri tegak sebagai simbol kepedulian. Saat takbir bergema nanti, Ibu Satupa tak lagi perlu menengok ke atas dengan rasa takut; ia akan menengok ke atas dengan rasa syukur yang mendalam.












