
SIDOARJO, 12 Januari 2026 – Di balik riuh rendah suara kendaraan yang melintas di kawasan Candi, Sidoarjo, terdapat sebuah bangunan yang bukan sekadar dinding dan atap. Rumah Singgah Mustahik BAZNAS Sidoarjo, yang terletak di Jl. Candi Besar, kini menjadi saksi bisu perjuangan para penyintas penyakit kronis dalam menjemput kesembuhan.
Salah satunya Adalah, sebut saja namanya Pak Abdul (59), seorang pria paruh baya asal Panceng, Lamongan. Garis-garis di wajahnya menyimpan ketabahan yang luar biasa. Pak Abdul didiagnosa menderita kanker dan harus menjalani tindakan medis kemoterapi secara berkelanjutan di RSUD Notopuro Sidoarjo—rumah sakit Tipe A yang menjadi rujukan utama di wilayah tersebut.
Jembatan Menuju Kesembuhan
Bagi warga dari luar kota seperti Pak Abdul, tantangan terbesar bukanlah sekadar melawan penyakit, melainkan logistik perjalanan. Jarak Lamongan ke Sidoarjo yang cukup jauh menjadi kendala fisik dan finansial jika harus dilakukan setiap hari secara “riwa-riwi” atau pulang-pergi.
Di sinilah peran Rumah Singgah Mustahik menjadi krusial. Selama 10 hari ke depan, Pak Abdul akan menetap di fasilitas ini untuk menjalani rawat jalan intensif. Kehadiran rumah singgah ini menghapus beban biaya penginapan yang biasanya memberatkan para mustahik.
“Rumah ini adalah bentuk nyata zakat yang berdampak langsung pada masyarakat. Ini bukan sekadar rumah singgah, tapi rumah kasih,” ujar Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad MA, mengenang kembali semangat peresmian fasilitas ini pada Oktober 2025 lalu. Beliau menegaskan bahwa setiap kamar di sini adalah aliran rahmat Allah melalui tangan para muzakki.
Pelayanan dari Hati
Bukan hanya tempat tidur yang nyaman, pelayanan di Rumah Singgah ini dirancang untuk memastikan pasien bisa fokus sepenuhnya pada pemulihan. BAZNAS Sidoarjo memahami bahwa nutrisi dan kenyamanan psikologis adalah kunci pendamping pengobatan medis.
Hariyanto, salah satu petugas layanan di Rumah Singgah BAZNAS Sidoarjo, dengan sigap memastikan setiap kebutuhan penghuni terpenuhi. Dengan senyum ramah, ia menjelaskan komitmen timnya dalam melayani para tamu istimewa ini.
“Kami berupaya memastikan pelayanan rumah singgah terbaik diberikan kepada para mustahik. Tidak hanya tempat istirahat, setiap hari kami juga memberikan layanan sarapan untuk 3 orang bagi setiap keluarga pasien yang menginap,” jelas Hariyanto dengan tulus.
Fasilitas ini menjadi oase bagi keluarga pasien, peserta pelatihan, maupun masyarakat yang sedang menghadapi kondisi darurat sosial. Di sini, zakat berubah wujud menjadi nasi hangat di pagi hari, tempat berteduh yang bersih, dan dukungan moral yang menguatkan.
Zakat: Solusi Konkret Penderitaan
Kisah Pak Abdul adalah satu dari sekian banyak potret betapa pentingnya pengelolaan zakat yang tepat sasaran. Melalui kolaborasi antara BAZNAS RI, BAZNAS Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, rumah singgah ini menjadi bukti bahwa zakat tidak berhenti pada amalan ritual semata, melainkan menjadi solusi konkret atas penderitaan manusia.
Kini, Pak Abdul bisa beristirahat dengan tenang tanpa perlu memikirkan jauhnya jarak Lamongan-Sidoarjo di sela-sela jadwal kemoterapinya. Di Rumah Singgah Mustahik ini, ia tidak sendirian. Ada doa dari para muzakki dan tangan-tangan petugas yang siap melayani dengan penuh empati.












