BeritaHeadline

Motor Kemanusiaan Gus Jazuk: 9 Km Menembus Tambak Demi Senyum Pak Ngatemo

227
×

Motor Kemanusiaan Gus Jazuk: 9 Km Menembus Tambak Demi Senyum Pak Ngatemo

Sebarkan artikel ini
Berdialog

Sidoarjo, 23 Juli 2025, Dengan sepeda motor berboncengan menyusuri pematang tambak sempit di Dusun Kedungsari desa Kedungpeluk kecamatan Candi, Ketua BAZNAS Sidoarjo M. Chasbil Aziz Salju Sodar (Gus Jazuk) dan timnya bergerak bak pelari estafet kemanusiaan. Rabu pagi (23/7/2025), mereka menembus jalur terpencil—hanya bisa diakses roda dua—menuju rumah Pak Ngatemo.

Di balik dinding bambu reyot, pria 68 tahun itu terbaring tak berdaya akibat stroke sejak 8 bulan lalu.

“Dia hanya bisa menelan susu dan sereal lewat selang,” ujar Gus Jazuk.

 

Intervensi di Ujung Tambak

Di lokasi yang terpencil—9 km dari balai desa Kedungpeluk—tim menemukan realita pilu: tanah irigasi yang ditinggal membuat rumah tak mungkin direhab melalui program BAZNAS Sidoarjo, sementara dua anak, menantu, dan cucu Pak Ngatemo bergantian merawatnya tanpa alat medis memadai. Meski sudah mendapat bantuan PKH, kebutuhan dasar seperti pampers dan nutrisi khusus masih jauh dari cukup.

“Kami tak bisa biarkan martabatnya terkikis hanya karena lokasi terpencil,” tegas Gus Jazuk setelah berdialog intensif dengan keluarga. Dari dinding rumah yang lapuk, lahir rencana aksi konkret: perlunya bantuan bulanan (pampers + susu Entrasol) dan kursi roda untuk memulihkan mobilitas.

Respons Kilat untuk Darurat Kemanusiaan

Berikutnya, Pukul 13:00,an WIB, tim sudah bergerak ke Desa Grogol, Kecamatan Tulangan. Di sini, Pak Sudarno (52)—mantan penderita stroke yang kehilangan mata pencaharian—menunggu dengan harap-harap cemas. Pendekatan door-to-door yang dipimpin Gus Jazuk memastikan Bantuan Tunai diserahkan langsung ke tangan istri Pak Sudarno, Muslimah, yang tak kuasa menahan air mata.

“Ini semoga bisa membantu,” ujar Ahmad Hamdani, staf pelaksana BAZNAS.

Bantuan ini bukan sekadar angka—tapi oksigen untuk keluarga yang bertahan tanpa jaring pengaman ekonomi.

 

Filosofi Aksi: Data yang Berubah Jadi Kehangatan

Dua intervensi dalam sehari ini mencerminkan DNA BAZNAS Sidoarjo: presisi data bertemu kecepatan empati. Survei penilaian kondisi (assessment) Pak Ngatemo melahirkan program berkelanjutan (sustainability), sementara bantuan untuk Pak Sudarno adalah respons darurat (urgency).

“Kami tak hanya mencatat penderitaan, tapi mengubahnya jadi peta jalan harapan,” tegas Gus Jazuk di sela perjalanan pulang. Di balik terik Juli yang menyengat, tim membawa pulang pelajaran abadi: filantropi sejati lahir ketika kebijakan dibuat bukan di balik meja, tapi dari mendengar denyut nadi mustahik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!