BeritaHeadline

Secercah Asa di Usia Senja: Sinergi BAZNAS dan Dispendukcapil Sidoarjo untuk Mbah Muah

133
×

Secercah Asa di Usia Senja: Sinergi BAZNAS dan Dispendukcapil Sidoarjo untuk Mbah Muah

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Di sebuah sudut Desa Mindugading, Kecamatan Tarik, hidup seorang perempuan tangguh yang telah melewati delapan dekade putaran zaman. Mbah Muah namanya. Di usianya yang menginjak 79 tahun, ia menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian, hidup sebatangkara tanpa sanak saudara yang menemani.

Langkah Mbah Muah mungkin tak lagi tegak, namun semangatnya untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi mengetuk pintu langit dan hati para pegiat kemanusiaan.

Jejak Kepedulian yang Tak Terputus

Kisah ini bermula pada 14 April 2026. Saat itu, tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyambangi kediaman Mbah Muah untuk menyalurkan bantuan biaya hidup darurat. Namun, melihat kondisi faktual di lapangan—seorang lansia kelahiran 1947 yang tinggal sendiri—tim merasa bantuan sekali jalan tidaklah cukup.

Diskusi hangat pun mengalir antara Kaur Kesra Desa Mindugading dan tim lapangan BAZNAS. Disepakati bahwa Mbah Muah sangat layak diusulkan sebagai penerima Bantuan Fakir Miskin, sebuah program bantuan berkala berbasis cash transfer (transfer tunai) agar kelangsungan hidupnya lebih terjamin setiap bulannya.

Namun, ada kendala administratif: Mbah Muah belum memiliki dokumen kependudukan yang valid sebagai syarat pembukaan buku tabungan bantuan.

Layanan Jemput Bola: Menjemput Hak Warga Negara

Bak gayung bersambut, pada Kamis, 23 April 2026, sinergi antarlembaga terwujud nyata. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Sidoarjo melalui Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan (PDIP) bergerak cepat melakukan layanan “Jemput Bola”.

Dengan penuh kesabaran, petugas mendampingi dan mengantarkan langsung Mbah Muah untuk proses pembuatan KTP dan Kartu Keluarga (KK). Langkah ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan upaya memulihkan hak sipil seorang lansia agar akses bantuan sosial baginya terbuka lebar.

Ditemui secara terpisah, Wakil Ketua II BAZNAS Sidoarjo, M. Mahbub, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk kehadiran negara dan agama dalam memuliakan kaum dhuafa.

“Kasus Mbah Muah ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kemiskinan seringkali berkelindan dengan kendala administratif. Kami di BAZNAS Sidoarjo tidak ingin ada warga, apalagi lansia sebatangkara, yang terputus akses bantuannya hanya karena tidak memiliki KTP. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi langkah cepat Dispendukcapil. Dengan dokumen ini, kami bisa segera membukakan buku tabungan untuk Mbah Muah agar bantuan modal hidup dapat diterima secara rutin dan bermartabat,” ujar M. Mahbub.

Kini, Mbah Muah tidak lagi merasa sendiri. Di balik keriput wajahnya, ada senyum tipis yang menandakan harapan baru. Bahwa di Sidoarjo, kepedulian bukan sekadar jargon, melainkan aksi nyata yang saling menguatkan.
Zakat Menguatkan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!